MEMBUMI

Oleh : Neni Nurachman

Lembaran pedoman dan sejumlah syarat telah selsai diketik dan di edit. Berkas lengkap,beberapa bagian belum ditandatangani Kepala Sekolah. Waktu masih cukup lama ada 10 hari kedepan. Tahun baru di awali merealisasikan mimpi yang kandas tahun lalu. Harapan menggebu,untuk datang menimba ilmu di negeri sakura,Jepang. Mimpiku sejak masa kuliah. Sejenak mampir di Jepang,yang konon maju karena potensi SDM yang dikelola optimal. Negara yang warganya lebih mencintai bahasanya daripada Bahasa Inggris. Terbukti,tidak ada sarat toefl atau toeic dan sejenisnya untuk mengikuti training teacher selama 1,5 tahun.

Alam bawah sadar ku merekam semua file foto alam yang aku ambil dari google. Aku rancang saat aku disana.Bersama keluarga kecil ku nan bahagia. Bukan sekedar tergiur dengan uang saku ,itu bonus penunjang saja. Melihat schedule dan kurikulum training,akan sangat menambah ilmu dan pengalaman. Setengah tahun belajar bahasa Jepang,setengah tahun belajar di Universitas, setengah tahun mengajar di sekolah Jepang. Bagaimana hatiku tak tergoda dengan paket training itu? Yess ini tahun terahir,peluang terahir karena tahun ini usia ku 35 tahun. Tahun ini masih bisa mendaftar. Setelah tahun-tahun lalu gagal karena tidak memperoleh izin domestik Rumah Tangga. Tahun ini sangat berapi-api semangatku. Jendral nakhoda alias imam rumahku menyetujui dan tentu akan ikut bersama anak-anak. Anganku melayang,membuncah bahagia. Meskipun aku belum tentu lulus seleksi.

Dua hari lagi aku akan memberanikan diri meminta izin kembali ke Kepala Sekolah. Harap-harap cemas. Malam ini aku harus meminta dukungan semangat untuk merangkai kata merayu atasanku agar memperoleh izin.

"Say, aku udah selsai ngetik persaratan itu, besok mau di print di sekolah dan lusa mau membicarakan ini dengan Ibu Haji" Aku semangat membuncah.

"Berkas apa Yank? Belum selsai kah yang kemarin dikerjakan saat liburan?atau berkas baru lagi?" Kakang Prabu ku terheran-heran. Bingung karena memang hampir setiap minggu di dua bulan terahir ini ada pengumpulan berkas terus menerus.

"Ih,,bukan ini yang tahun lalu kita obrolkan. Tahun lalu Kakang ga ngizinin aku ikutan ini. Nah pembicaraan kita beberapa bulan lalu , Kakang ngizinin aku ikut program training ini. Yang ke Jepang itu lho..." Terlalu bersemangat,aku pun tak detail memperhatikan mimik Prabuku.

"Gimana ya ngomongnya ke Bu Haji, kan harus ada izin dan beberapa keterangan dari beliau sebagai Kepsek.." Tak ku hiaraukan Prabuku menatapku.

"Kang, kok diam....Lama amat mikirin kata-katanya?" Aku melirik Prabuku yang tak kunjung bersuara.Lain dari biasanya.
Lama, sangat lama aku menunggu beberapa menit berlalu tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Ada yang aneh, aku gamang dan mulai gelisah. Seperti tanda di tahun yang lalu.

"Aduh, udah sembuh ya penyakit lupa nya istriku...." gumamnya menyeringai. Tak kupahami isaratnya.

"Gimana mau lupa, sejak ijin terucap, rangkaian mimpi berbaris. Serta merta tangan cekatan browsing setiap saat cari info kapan mulai dibuka pendaftaran training ini. Dream come true yank.." Kembali berapi api aku menyahut.

" Bu, beneran nich mau ikutan training ini?" Prabuku berucap lirih dan dalam menatapku,penuh misteri.

Kini aku yang terdiam, mematung. Harapanku bukan muncul pertanyaan itu lagi. Tahun lalu kalimat ini yang menjadikan aku batal mendaftarkan diri. Aku coba menepis galau yang mulai hadir. 

"Ya iya lah Kakang...ini serius...aku sudah buat dan mengumpulkan beberapa file,tinggal diprint dan ditanda tangani,dikirim dech.Batas ahir pengiriman 10 hari lagi" Mulai menurunkan nada bicaraku. Sedikit demi sedikit galau bertambah.Saat Prabuku memanggilku dengan Bu. Ada makna lain tersirat.

Hingga kami beranjak istirahat belum juga ada untaian kata untuk minta izin dan keterangan dari Bu Haji.Hingga keesokn harinya pun belum terbahas lagi. Kami larut dalam aktivitas keluarga kecil dihari libur terahir.Aku menunda dulu membicarakan ini. Toh waktunya masih lama. Ada 9 hari lagi.
***
"Kakang, gimana nich ngomongnya ke Bu Haji?  ngga kerasa tinggal 5 hari lho.Kalau besok aku bicara,,seandainya diizinkan nah ada waktu untuk ke dinas dan ke setda 3 hari ini .Kakang nemenin ngomongnya ya?" Aku merajuk.

"Yank, Kakang ga nyangka respon beberapa bulan lalu sangat diingat dan disikapi. Kakang hanya menghibur aja waktu itu. Giimana jadinya berpisah 1,5 tahun. Waktu ditinggal 3 minggu training aja udah ga kuat,kerepotan. Ngga usah ikutan kali ini ya sayang?" Lembut prabuku mengucapkan kata demi kata.

Belaian mesranya tak dapat kurasakan. Aku ternganga,bengong sebengong-bengongnya. Galau tingkat dewa. Seperti terhempas jauh badan ini. Lebih remuk, lebih galau dari waktu pertama kali naik pesawat. Kali ini rasaku lebih dari tahun lalu. Hayalku bepetualang di negeri sakura bersama keluarga kecilku terampok dengan untaian lembut nan mesra dari prabuku. Lebih terasa bak desing petir siang hari yang memadamkan aliran listrik. Bukan listrik yang padam, bara api didadaku tersiram tak berasap.

Berhari-hari kemurunganku tak kunjung hilang. Kobaran semangat hilang tak bersisa sebutir pun. Lenyap untaian mimpi yang ditulis dan disimpan dalam botol. Salahnya aku menghempaskan botol mimpiku ke tengah laut waktu itu. 

Aku berfikir dalam diam , berhari-hari. Dua kubu dalam hati bicara. Berkas tetap kirimkan diam-diam.Saat nanti diterima, aku merayu prabuku. Aku nanti pasti akan dapat izin dan bahkan membawanya berkelana di negeri gunung Fujiyama. Bagaimana kalau prabuku tersingggung? Hingga nanti aku dihadapkan memilih keluarga atau training? Ah aku tidak sedikitpun berfikir hal buruk terjadi. Suara dua dari bisik hatiku bicara. Saat izin suami tak diperoleh,baiknya dituruti saja. Mimpi kali ini terhempas. Masih ada mimpi 25 alphabet lain,bahkan ribuan. Tuhan mungkin menuliskan kali ini begini. Siapa ditakdirkan berbeda di mimpi yang lain ke negeri gempa ini bisa terwujud bersama prabuku.

Aku terus berfikir, dalam dilema. Seharusnya aku tidak dilema. Setiap malam saat terjaga dari tidur, kupandangi sosok prabuku dan anak-anak saat dia terlelap, dengan tatap menyelidik. Rutinitas baru berlalu terus aku lakukan. Hingga 2 hari menjelang waktu pengiriman berkas habis. Ada energi dan rasa setelah ritual itu. Hingga aku sangat kuat memutuskan untuk tetap bicara ke prabuku.

"Kakang,aku sudah menemukan sendiri kata-kata tepat itu. Walau tanpa bantuan kakang"  Jelang tidur aku membuka obrolan. Sedikit kaku karena beberapa malm ini terganggu komunikasi kami.

Prabuku hanya melirik dan siap mendengarkan.Tanpa sahutan. Betapa dia membayangkan beratnya keputusan yang aku ambil.

"Kakang, ku putuskan untuk...untuk..." Sejenak aku diam sekedar menarik nafas dan menenangkan hati. Menyiapkan segala akibat yang akan ku ucapkan. Prabuku terayu dan setuju atau menyiapkan dua pilihan.

"Aku sudah mantap untuk....terus....mengikuti....." aku menarik nafas lagi. Aku menatap prabu yang tak sedikitpun melihatku. Sedikit ragu dan takut reaksi prabuku.

"Aku...akan terus mengikuti kata-katamu kakanggggggg" bisiku lirih namun kuat.

"Apa????" terbelalak dan kaget prabuku memeluk erat.

Aku membiarkan prabu bahagia. Walau hatiku hancur dan sedih.Barusaja melemparkan mimpiku jauh ke dasar inti bumi, melepaskan ego dan berlari jauh dari mimpi yang tak akan kembali. Aku lari membumi menjauhi mimpi. Hati tercabik,perih. 

Aku yakin, keputusan ini terbaik untukku. Keluarga lebih berharga dari permata, intan , berlian. Keluarga tak dapat ditukar dengan kehebatan pasca training dari negeri sakura. Semua semu jika keluargaku tak setuju. Mimpi A telah kandas. Akan aku bangun ribuan mimpi yang dapat digapai bersama kakang.

***

#Mohon_Masukan_koreksinya

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan