Pelangi Rasa
Oleh: Neni Nurachman.
Gemercik rintik hujan belum juga berhenti, hingga selarut ini. Tumbukan tetes air hujan di genting bersahutan. Aku terus berkutat dengan lembaran analisis tugas praktikum. Jengah, tetapi terus kunikmati kesahaduan irama hujan, berbaur dengan alunan musik klasik. Handphone berkelip berulangkali, aku abaikan hanya dilirik saja.Target laporan praktikum selsai pukul 23.00 WIB.
Kumandang adzan shubuh membangunkanku. Aku terpana melihat lembar-lembar yang belum tertata rapi, kusut dan sedikit berantakan. Aku pulas seusai merampungkan laporan. Aku lekas merapikan dan menjilid alakadarnya,lalu bergegas untuk sholat.
Hari ini cukup padat perkuliahan.Jelang UAS, makin menumpuk tugas Semua ingin segera libur, lumayan panjang hingga kelak awal september. Kerinduan kampung halaman nan hijau nun jauh di kaki gunung Galunggung. Rindu ritual meniti ketebalan pasir menuju puncak. Rindu menelusuri semak belukar lalu meluncur, dari puncak menuju dasar menyentuh air kawah. Kemudian berendam menghilangkan pegal di kolam air panas. Tak sabar rasanya.
Baru ingat, entah berapa puluh SMS masuk ke HP. Ku amati pesan satu persatu.Cukup lumayan menyita waktu. 17 pesan masuk, aku baru membuka HP. Perlahan kubaca sms menyamping, dengan kondisi mata kurang tidur beberapa malam terahir ini. Belum selsai semua pesan, tadinya mau kumasukan HP super jadul ke tas. Namun, aku mengurungkan niat. Terbelalak membaca pesan yang super singkat dari sesorang yang tidak terlalu asing. Isi pesan membuatku tertegun, mematung. Hingga gerbang fakultas ku terlewati beberapa meter.
Tergesa aku turun dari bis, dan setengah berlari menuju ruang kuliah.Terlambat satu menit, pintu akan terkunci. Alamat tak bisa mengikuti perkuliahan. Entah sadis atau menanamkan disiplin,walau dengan ancaman. Terlalu ribet memikirkannya, aku ubah langkah cepat menjadi lari.
***
Pagi itu aku sudah mengantri di wartel. Sekedar ingin memastikan, kabar menghenyakan yang dibaca pagi kemarin. Lumayan panjang antriannya. Pertengahan bulan banyak mahasiswa yang minta kiriman susulan, jelang UAS banyak pengeluaran untuk seabreg tugas, fotokopi, bahkan membeli buku. Tapi, bukan untuk itu kali ini aku mengantri. Pesan dari Teh Emi yang membuatku resah.
"Assalamualaikum, Hallo.. Mau bicala cama capa ya.. ? " Suara lucu dari Sansan, anaknya teh Emi. Jelas sepagi ini teh Emi sibuk dengan morning job nya.
"Wa'alaikumusdalam,, ini san san ya sayang? Boleh tante bicara sama Ambu? "
"Boleh, bentar ya Ateu, Sansan panggil umi dulu." Gemersik suara di seberang, hingga akhirnya kudapati sapaan lembut dari Teh Emi.
"Assalamualaikum.... Teh ini Iza,, Enggg" niatku untuk menyerbu bertubi-tubi terputus dengan sesak rasa tak karuan. Teh Emi memotong pembicaraanku dan panjang lebar memperjelas isi sms singkat kemarin pagi. Dan kali ini, penjelasannya makin membuat aku terperosok dilembah dilematis dan kepedihan tiada tara.
"Iy, Iza, Teteh sudah mempertimbangkan semuanya. Nanti, setelah libur semester kita bicarakan lebih lanjut denganmu dan keluarga. Assalamualaikum. " teh Emi menutup telpon. Aku terdiam seribu bahasa. Tak bisa mengelak apa yang di paparkan teh Emi.
Betapa tidak, sahabatku sejak SD, aku memanggilnya teteh karena usia terpaut 2 tahun denganku. Sahabatku yang selalu sebangku sejak SD hingga SMA. Tempat aku berbagi suka dan duka. Walau Setelah Ebtanas teh Emi menerima pinangan langsung dinikahkan oleh orang tuanya dengan seseorang pilihan keluarganya. Aku memilih melanjutkan kuliah, jauh dari kampung kelahiran. Menjauhi semua kenangan yang teramat pahit. Bagaiman tidak, seseorang pilihan orang tua teh Emi adalah dia yang telah terikat hati denganku. Tapi, aku sadari ini semua tak dapat di sekenario. Keluarga teh Emi tak mengetahuinya. Teh Emi pun tak mengetahui, bahwa pasangan hidupnya adalah laki-laki yang selalu merangkai impian bersamaku. Meski aku dan dia tak pernah mendeklarasikan hubungan kami. Aku tutup rapat dari Teh Emi tentang masa lalu belahan jiwanya.
******
Aku ragu untuk benar -benar menunggu kedatangan teh Emi ke keluarga ku. Terlalu gila langkahnya. Surga yang didambakan dengan mencarikan istri untuk suaminya, dan pilihannya jatuh kepadaku. Ini keputusan salah pikirku. Ku putus kan, aku bertemu empat mata dengan teh Emi, sebelum dia benar-benar datang melamarku, untuk partner dalam menggapai surga idamannya.
Setengah jam berlalu, aku termangu menanti kedatangan sahabatku. Minuman yang aku pesan sudah diisi ulang. Tempat favorit kami, Bakso Simpang Lima. Terlalu lama ku menanti, mau menelpon HP terlalu mahal, roaming biaya telfon lumayan menjebol pulsa kalangan mahasiswa. Aku kirim pesan singkat beberapa kali, tetap tak berbalas. Hampir saja aku beranjak, lenganku digamit orang.
"Teh Emii?"Aku terbengong-bengong, tak percaya sosok itu adalah sahabatku. Jilbab coklat tua menjuntai hingga lutut, berbalut gamis polcadot senada. Sungguh berbeda dengan penampilan terahir bertemu, enam bulan yang lalu.
"Assalamualaikum, afwan terlambat, menitipkan Sansan dulu ke neneknya. Aba nya lagi ke luar kota untuk beberapa hari ini. Aku rasa, ini butuh ruang spesial kita berdua" lembut dan hangat permohonan maafnya.
Sementara aku, dalam pikirn kalut, menyiapkan selusin alibi, untuk menolak mentah-mentah niatan Teh Emi, yang diutarakan saat menelpon waktu itu. Entahlah, ada jarak yang sangat jauh yang dirasakan. Setelah perbincangan di telpon waktu itu.
"Mang, bikinkan bakso dua, satu campur lengkap, satu tanpa touge" aku pesan makanan favorit kami.
"Teh, banyak jalan menuju surga, kenapa teteh tidak ambil jalan lain? Tidak harus dengan cara begini." Aku mulai perbincangan.
"Za, teteh udah berfikir dan mempertimbangkan banyak hal. Teteh rasa ini yang terbaik untuk semua." Tanpa melihatku dia bertutur.
"Surga yang teteh dapat, belum tentu juga surga yang kelak Iza dapat. Landasan nya jika bukan Lillah tak akan berbuah pahala teh Teteh jangan ingin ke surga sendirian, sementara aku, meski berbenah belum tentu lurus niat, langkahku belum tentu benar di kemudian hari." Kutelisik pandagannya.
"Za, coba baca ini, resapi dan fikirkan baik-baik. Kenapa Iza menyembunyikan ini dari teteh?" Kali ini Teh Emi menatap dalam dan menggenggam jemariku, memberikan sebuah disket biru muda.
"Za, teteh ngga bisa dan nggak ingin setiap saat ada sosok perempuan lain, yang ada dalam benak dan hati suami teteh. Tapi, teteh nggak mau juga jika pernikahan ini harus berahir." Makin dalam teh Emi menatapku.
Aku memaku, tak bergeming dan tak mampu menjawabnya.
"Maksud teteh gimana, Za ga ngerti." Sedikit berkilah, tapi serasa lepas jantung berdegup.
"Sudah lah Za, tidak usah menyembunyikan lagi." Berlinang air mata teh Emi, walau tak sempat berjatuhan, aku jelas melihatnya. Tatapannya penuh pilu.
"sebulan sebelum sms Iza, teteh menemukan ini, dan isinya jelas, semua mimpi kalian, semua rasa dan pikir Aba nya Sansan selama ini. Bagaimana bisa aku hidup, bersama laki-laki yang disetiap detik selalu melihat sosok Iza dalam segala tindakan teteh." Lirih suaranya, makin perih aku mendengarnya.
"Teh, itu berlebihan. Itu masa lalu yang tak pernah aku lalui. Semua halusinasi. Itu tidak benar. Aku sudah mengubur hubungan yang tak pernah ada. Hubungan sebatas mimpi. Banyak cara menggapai surga, tidak harus dengan teteh melamar Iza untuk suami teteh, plisss teh. Jangan sampai teteh datang ke rumah keluarga Iza. Iza tidak mau dipersunting menjadi istri kedua, siapapun yang melamarnya." Aku lirih berintonasi tinggi dalam bisik. Takut didengar orang lain.
"Teh, Iza lusa mau berangkat lagi ke Yogya, ada urusan yang tak bisa ditinggalkan. Mohon teteh menghentikan niatan teteh, untuk menuju surga yang teteh idamkan dengan hati luka, Assalamualaikum." Aku pamit dan meninggalkan teh Emi tanpa menanti jawaban.
Disket yang digenggamkan, aku tinggalkan. Hasrat hati menggebu ingin membaca tulisan dalam disket itu. Apa daya, jika aku membacanya mungkin saja aku luluh dan menerima pinangan teh Emi, karena alasan rasa di dada. Oh tidak, tidak mungkin aku menjadi perantara teh Emi menggapai surga idamannya, sementara hati nya terlukai. Ditoreh oleh sahabatnya sendiri.
Aku bergegas pulang, berkemas dan bilang ke mamah dan Bapak bahwa esok aku akan kembali ke Yogya,, naik kereta pagi. Mereka terheran-heran, padahal aku udah merancang naik gunung sama sepupu dan ponakan. Menunaikan kerinduan menghirup segarnya gunung Galunggung. Memanen beberapa tangkai Edelweis. Semua aku batalkan. Aku pergi meninggalkan sepucuk surat untuk Teh Emi dan suaminya, jika beliau ke rumah
"Mah, Pak, aku tidak mau membuka pintu surga sekaligus membuka pintu neraka. Iza pamit menghabiskan liburan di Yogya saja." Kututup ceritaku pada Mamah dan Bapak.
Kubiarkan edelweis bermekaran. Tetap tegar walau layu. Abadi dalam vas bunga sang pemburu. Ku biarkan diri pergi, membawa pelangi rasa di dada.
Bu Neni keren banget tulisannya, penuh nilai dan bernas.
BalasHapusSaya suka sekali, kalimst demi kalimat saya baca perlahan agar tidak cepat habis
Terima kasih, bu...
BalasHapusNice posting and keep writing mba:)
BalasHapusMakasy mba, semoga tetap terus menulis..
Hapus:)
Sukaaa cerita yg banyak terjadi
BalasHapusSalam kenal