Antrian Iteung
Oleh: Neni Nurachman
"Lho kok bisa? Tadi kan dia datang 30 menit lalu. Kok duluan dipanggil?" Gumam seorang gadis kuliahaan. Rupanya kesal dengan penantiannya. Mungkin sama juga dengan para penunggu lainnya.
"Mba, tadi kita kan berurutan ya menyimpan berkasnya?" Iteung bertanya ke perempuan tadi yang bergumam.
Sama sebetulnya, Iteung juga merasa tidak nyaman. Iteung dan Rika, nama perempuan kuliahan tadi, mengantri pertama dan kedua. Mereka datang saat para petugas masih istirahat. Setelah menunggu dua jam tanpa kabar. Petugas pun memanggil para pengantri satu persatu.
"Alamat kita dipanggil terahir, Ceu." Ujar Rika.
"Kenapa, mba? Kapan kita tadi pertama dan kedua antri nya. Kok bisa jadi terahir?" Iteung polos.
"Gini Ceu. Itu tadi yang pertama dipanggil adalah orang yang datang paling ahir. Otomatis lah kita berada paling bawah. Mestinya tumpukan itu dibalik. Jangan seadanya menumpuk. Jadi yang paling bawah ya yang pertama datang. Saya sama euceu." Rika panjang lebar menjelaskan.
"Ceu, kalau nama saya dipanggil, kasih tahu saya ya. Saya kebelet dulu." Tanpa menunggu jawaban Iteung, Rika terbirit-birit.
"Ari si Mba Rika teh, nama panjangna apa ya?" Iteung berfikir, kenapa tidak minta nama panjang Rika.
Iteung menyimak setiap nama yang dipanggil petugas. Siapa tau nama dirinya atau Rika yang dipanggil. Sudah ada sepuluh orang yang dipanggil, tidak juga terdengar nama Iteung atau pun Rika. Hingga Rika datang kembali duduk di samping Iteung.
"Ceu, saya sudah dipanggil?" Tanyanya penasaran.
"Belum." Iteung menjawab pendek.
"Kalau Euceu?" Tanya Rika lagi.
"Belum atuh, kan saya masih disini." Ujar Iteung, mesem.
Tiba-Tiba seorang laki-laki menghampiri petugas. Rupanya dia akan mengambil berkasnya juga. Berbincang dengan petugas. Kemudian diajak masuk ke area tempat petugas. Nampak saling berbisik-bisik. Lelaki itu berdiri dekat meja petugas. Sesaat kemudian, menerima berkasnya. Lalu saling berjabat, melambaikan tangan. Lelaki itu berlalu membawa berkasnya.
"Tuh, Ceu coba lihat! Bapak itu, mendekati petugas, sejenak disana.Lalu dia pergi membawa berkasnya. Aneh ini aturan mengantri seperti apa?" Rika mulai sewot.
"Coba atuh mba, ditanyakan ke petugas lainnya." Kata Iteung.
"Bentar ya Ceu, saya tanya dulu. Eh, siapa nama Euceu?" Rika membalikan badan, setelah melangkahkan kakinya.
"Iteung"
"Ya, sebentar, sekalian saya tanyakan." Rika bergegas ke meja petugas.
"Maaf, Pak apakah atas nama Rika Putri Astuti sudah beres?" Sayup terdengar suara Rika diantara riuh obrolan pengantri.
"Sebentar, ya sudah, silahkan ditunggu saja." Jawab petugas, senyum kelelahan tersungging.
"Kalau atas nama Iteung, sudah juga?" Tanya Rika lagi.
"Sebentar, emh, iya sudah, silahkan tunggu." Petugas kembali mempersilahkan Rika.
"Sudah Ceu, kita tinggal menunggu saja." Rika menyenderkan punggung kembali duduk dekat Iteung
Keduanya anteng dengan aktifitas membosankan itu. Rika cekatan jemarinya menari diatas smartphone nya. Sementara Iteung, hanya berdiam saja. Sesekali menatap layar televisi di hadapan para pengantri. Hanya itu-itu saja yang ditayangkan. Mungkin Iteung sampai hafal setiap percakapan iklan layanan gedung ini.
Tiba-tiba datang sesosok perempuan. Dia memakai baju batik warna kuning, kerudung kuning senada, bak pembawa acara pernikahan. Indah balutan kerudung modisnya. Celana panjang hitam, senada warna sepatu high hill. Berlenggok diantara para pengantri yang telah letih. Perempuan itu menghampiri petugas. Mereka saling berbisik, dan sesekali saling melempar senyum. Nampak petugas manggut-manggut.
Sesaat kemudian, petugas menghampiri petugas lain, yang sedang memanggil setiap nama yang tercantum pada map yang menumpuk. Para petugas saling berbincang pelan. Saling mengangguk satu sama lain. Kemudian salah satu diantara mereka memilih beberapa file diantara tumpukan map. Lalu dia bergegas menghampiri perempuan berbaju kuning tadi. Setumpuk berkas diserahkan padanya. Paras cantik pun berhias senyum sumringah. Dia berlenggok kembali ke belakang antrian. Duduk beserta kawan-kawannya. Tak lama kemudian mereka keluar ruangan, melenggang dan pulang.
"Ada lagi yang seperti itu. Aturan apa lagi? Apakah di negeri ini tak berlaku budaya antri?" Rika mengumpat.
"Tidak tahu mba, saya aja heran. Apakah memang peraturan antri di sini begini ya?" Seorang laki-laki tengah baya, di belakang Rika menimpali.
Riuh, para pengantri mulai gaduh. Tetapi, tetap menahan rasa tak karuan. Melihat dua peristiwa yang tak nyaman.
"Mungkin, ibu tadi, sudah mengantri sejak kemarin, Mba." Iteung mencoba menghibur diri.
"Ceu, ceu, mana ada aturan mengambil antrian hari ini dari hari kemarin." Rika menyeringai.
Keduanya tersenyum kecut. Meneruskan penantian mereka. Sungguh berharap nama mereka lekas disebut.
Lucu Teh ceritanya. Kejadian sehari-hari. Apalagi praktek dokter tuh. Antrinya luaamaaa juga...
BalasHapusAsa tersalurkan aspirasinya... Basa nuju ngantri bd pinjer print huk huk
BalasHapusAsa tersalurkan aspirasinya... Basa nuju ngantri bd pinjer print huk huk
BalasHapusKl di dokter beneran antri nya
BalasHapusxi xi
Ga ada salip menyalip
Bu Ai,
BalasHapusNuhun ah aspirasi banget atuh ya?