UCAPAN BAIK
Oleh:
Nie Noor
Kami menembus dingin dan kabut pagi buta.
Jalanan masih relatif sepi, untuk ukuran kota Bandung. Kami diantar suaminya Ev untuk mencari dan
menemukan lokasi seminar. Sepanjang perjalanan kami asyik mengobrol dengan antusias.
Obrolan ringan para emak yang menitipkan anak-anak pada suami atau mertua atau
adik, demi memperolah bongkahan ilmu berharga yang tak bisa kami dapati di Kota
Kecil kami.
Sesampai di lokasi, kami pun turun dan
pengantar pun berlalu menuju rentetan agenda mereka. Kami celingukan, arena masih sepi. Pahlawan keamanan (baca:satpam) dan pahlawan kebersihan, itu yang kami temui.
Masih sepi,mungkin para panitia belum datang karena mempersiapkan semuanya
hingga larut.
Suara vocal group bersahutan, bersumber
dari perut kami. Kami duduk di halaman lapang nan sejuk, dan rimbun.Lebih
terasa menggigil dan gelap. Terlalu pagi kami datang. Kami menunggu,, sambil melakukan rukun wajib
kunjungan tempat baru, njepret..njempret..
Selfie.
Satu persatu peserta lain datang. Obrolan
ringan dan perkenalan pun mengalir. Vocal group makin keras suaranya, tanpa
suara palseto. Kami pun pamitan untuk
mencari sarapan. Kami tak beranjak terlalu jauh, hanya menyebrangi jalan menuju
sebuah warung. Sekedar meredakan bunyi
vocal group, kami sarapan segelas teh panas dan aneka cemilan. (Baca:
bala-bala, gorengan haneut).Lumayan juga, vocal group tak berbunyi lagi.
Saat kami menyantap sarapan, Kami melihat
motor berhenti, pengendaranya mengeluarkan HP. Sepertinya aku mengenalnya. Pak
Idris, beliau yang akan menjadi nara sumber seminar. Beliau asik menjepret
dengan gawainya.Beliau memotret beberapa objek dihadapannya. Kalu saja tangan
kami tak belepotan dengan snack istimewa pagi ini, kami menjepret yang sedang
hunting objek. Kami lebih memilih terus meredakan ocehan vocal group.
Kami bingung rute pulang, di jam 17.30
ngangkot menuju Terminal atau sekedar sampai ke tempat yang bisa naik bis arah
ke Singaparna atau Tasik.
"Kita punya tiga waktu sholat, duha,
dzuhur dan ashar. Karena saya lagi ga sholat, saya serahkan berdoa ke
kalian.Berdoa agar ada yang bisa kita tebengin ke tempat bis atau sukur kalau
sampai Singaparna " Ev memberi saran. Saran yang bisa meyakinkan
kami.
" Duh, saya hanya bisa menyumbang
satu waktu do'a. Ba'da sholat duhur,
karena mau di jamak takdim dengan ashar." Ujar ku. (Entah
berseloroh, tapi realitanya begitu).
" Sama atuh, saya juga satu
waktu" AT menimpali.
"Nah kalo begitu, HP siapa yang ada alarm waktu sholat dengan
kumandang adzan? Saat kumandang adzan selsai, kita berdoa. Semua bisa berdoa.
Waktu antara adzan dan iqomah adalah mustajab" Sedikit berkelakar, tapi
aslinya memang serius, bingung memikirkan pulang.
"Atau.... "Sejenak ku hentikan
ucapan ku, karena taknyakin itu alternatif atau bukan.
"Atauuuu??????? " AT dan Ev
menanti lanjutan ide berlianku.
"Kita cari orang, lalu kita aniaya,
lalu kita suruh berdoa agar ada orang yang dapat kita tebengin sampai tempat
naik bis arah singaparna. Sukur sukur sampe singaparna kita bisa nebeng"
Tawa kami terurai, renyah. Walau tak
serenyah kegalauan kami.MEMIKIRKAN PULANG.
Istirahat untuk sholat ashar tiba. Kami memilih tempat duduk
dan menyantap snck kedua. Tentu dengan rukun wajib kami. Njepret....
Selfie...Tak terlepas topik kami pun berlanjut. Malah semakin fokus dengan
topik "KEPULANGAN DAN TEBENGAN"
Kami tak menyadari ada sesosok mahluk yang
memperhatikan kami. Mungkin karena kami terlalu berisik. Obrolan ringan pun
terjadi. Setelah panjang kali lebar sama dengan luas ngalor ngidul ngetan.
Ketemulah benang merahnya. Beliau teman SMA AT.Beliau bermukim di Lembang,
disini sedang menjadi fasilitator/instruktur PLPG. Hal terpenting, beliau selsai acara jam 17.30 dan membawa
kendaraan roda empat. Kami saling
pandang sumringah.
Hal yang sangat penting lagi yang harus
dicetak tebal, digaris bawahi dan cetak miring.... Kalimat beliau "NANTI
BISA IKUT SAYA SAMPAI PINTU TOL, DISANA BANYAK BIS ARAH KE TASIK"
AT pun bertukar nomor ponsel. Tepatnya
untuk memastikan nanti kami menunggu dilokasi mana. Kami kembali masuk ruang
seminar,melanjutkan puncak seminar.Tentunya kami ikuti dengan full semangat dan
sumringah. Kami menemukan jalan untuk pulang. Husnudzon tingkat dewa.
Sumringahku diiringi rasa malu dan
bersalah pada Tuhan. Aku teringat kelakar ku tadi pagi pada teman-teman. Tak
seharusnya aku berseloroh dalam hal do'a-do'a. Tak semestinya begitu. Masih
untung selorohku hal baik. Perkataan adalah do'a, sangat aku rasakan kali ini.
Aku petik hikmah, Tuhan Maha Penyayang, Maha Pengabul Do'a, walau kami berdoa dengan seloroh, Alloh
mengabulkannya, apalagi jika kami berdo'a sesuai adab dan sopan santun dalam
berdo'a. Aku teringat sebuah penggalan ayat Al-Qur'an " ...Berdo'alah,
maka Kami(Alloh) akan mengabulkannya. "
***

Insyaallah... Aamiin...
BalasHapusMakasy say...
BalasHapus