GURU LENTERA BANGSA


Oleh : Neni Nurachman
*) Dimuat di Surat Kabar Priangan Forum Guru Menulis (Gumeulis)

Simposium kedua berlangsung meriah. Meski terasa kurang hidmat apabila dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun lalu. Simposium merupakan kegiatan puncak hajatan nasional Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud. Kegiatan ini ajang unjuk karya guru dari berbagai jenjang pendidikan. Simposium ditujukan untuk menstimulus agar guru mampu dan menyukai berkarya melalui karya tulis.
            Tema guru mulia karena karya, ini menunjukan harapan dari pemerintah, bahwa kemuliaan guru adalah karena karyanya. Karya secara tertulis maupun karya berupa kinerja baik. Simposium hanya salah satu kegiatan yang diperuntukan guru oleh pemerintah. Hajat tahunan ini dilaksanakan puncaknya dalam peringatan Hari Guru Nasional.
            Karya guru tak hanya berupa  tulisan. Guru mendidik dengan  sepenuh hati, menebarkan nilai-nilai karakter baik kepada para siswa. Mengajar dengan sabar, telaten membimbing para siswa hingga mereka mampu menuntaskan ketercapaian pembelajaran. Guru menerima siswa yang berkonsultasi diluar jam kerja. Itu semua adalah maha bentuk karya mulia dari seorang guru untuk negeri. Karya yang tak dapat tertoreh dalam tulisan.
Hampir 4000 dari sekitar 3 juta guru  mengirimkan karya tulis di ajang simposium 2016. Jika dilihat dari kuantitas pembuat karya tulis, jauh lebih banyak guru yang tidak mengirimkan karya. Namun, bukan berarti yang tidak mengirimkan adalah guru yang  tidak berkarya, dan bukan pula guru yang tidak mulia. Merekalah juga berkarya tanpa pamrih. Berkarya tanpa ingin menjadi juara. Mereka pemenang sejati. Mereka adalah guru di seluruh pelosok negeri yang tetap berkarya dengan pelayanan prima kepada siswa, masyarakat dan Negara. Mereka merasa juara ketika para siswa menjadi para pemenang. Pemenang melawan segala pertarungan moral saat komunikasi mengglobal.
Peringatan hari guru berlalu, namun bagi bangsa ini setiap hari adalah hari guru. Bangsa pembelajar hendaknya menganggap begitu. Bangsa pembelajar akan belajar apa pun dari siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Belajar melalui system formal dan non formal. Bahkan akan belajar dari sekedar mengobrol dengan teman, dari sekedar berinteraksi di media sosial.
Guru populer dengan akronim digugu dan ditiru. Maka semua yang digugu dan ditiru adalah guru. Terdapat banyak yang layak memperoleh gelar guru. Karena kemuliaannya digugu dan ditiru. Tentunya selain guru yang formal berada dalam koordinasi dan naungan kemendikbud dan kemenag. Guru masyarakat sangatlah tinggi nilai kemuliaanya.
Tanpa naungang khusus perlindungan terhadap mereka. Tanpa ada peraturan upah minimum. Bahkan memang tak difinansialkan. Mereka yang berkarya menyebar ilmu dan manfaat untuk masyarakat dan bangsa. Mereka yang beramal tanpa pamrih mendidik masyarakat hingga dapat digugu dan ditiru. Penyelamatan moral, norma dan nilai-nilai baik dimasyarakat dilakukan semata-mata untuk kebaikan masyarakat dan bangsa.
Sosok  manusia yang selalu merasa ingin menebar manfaat untuk masyarakat dan bangsa layak bergelar guru. Sosok manusia yang selalu ingin mengetahui segala hal, merasa kekurangan dalam ilmu adalah manusia pembelajar. Hakikatnya setiap manusia hati nurani selalu ingin menambah pengetahuan dan selalu ingin berbagi manfaat untuk orang lain. Dengan demikian, semua manusia adalah guru sekaligus pembelajar.
Long life education adalah pendidikan sejak permulaan memiliki kehidupan hingga jatah kehidupannya berahir. Pendidikan bukan hanya menjadi pembelajar, tetapi juga sebagai penebar pengetahuan, penebar manfaat kepada orang lain, lingkungan masyarakat  , bangsa bahkan untuk seluruh mahluk penghuni jagat raya. Semua dapat berperan menjadi guru, setiap orang adalah guru, guru lentera bangsa.















C360_2016-02-02-13-41-17-096
 






















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Me Time Versi 2