PINTU INSPIRASI DI TWC BATCH 6
Oleh : Neni Nurachman
#Day_1
Jauh dijugjug, anggang diteang. Hasil
merayu dengan berjuta jurus, hingga dapat mengikuti pelatihan TWC Batch 6.
Berangkat dari rumah sekitar pukul 11 malam. Aku berangkat menggunakan jasa travel.
Aku pikir travel pengangkut penumpang, ternyata ini travel biasa melayani
pengiriman barang bersama kiriman barang juga. Lumayan sesak dan kurang nyaman
di dalamnya. Sudahlah, abaikan keadaan travel. Yang terpenting Aku sudah bisa
datang dengan izin presiden rumah tangga.
Sesampai
di wisma, panitia telah mempersiapkan kami yang tiba dini hari. Om Jay, begitu
sapaan untuk beliau, menempatkan kami untuk beristirahat. Tanpa di introgasi
terlebih dahulu. Subhanalloh,
ditengah negeri penuh prasangka, beliau husnuzdon pada setiap calon peserta.
Bagaimana jika ada penyelundup? Ah, itu sekedar pemikiran negatif Aku.
Perlahan
teman sekamar lengkap menjadi empat orang. Aku bersama Niar dari Bandung, Bu
Ana dcan Bu Tuni dari Bogor. Semua ramah, bersahabat dan pelupa. Pertama menuju
lokasi aula wisma, semua lupa tidak mengunci pintu kamar. Walhasil kita semua
ngakak, balik kanan mengamankan pintu.
Pembukaan
kegiatan tak seperti pelatihan biasanya. Tak ku dapati sambutan formal ala-ala
pejabat. Ini di pembukaaanya saja sudah menyenangkan. Apalagi Aku dapat door prize kaos, peserta terjauh
katanya. Padahal masih ada Bu Zel berasal dari Kepri. Wah, semangat tinggi
jadinya menuntaskan menggondol semua ilmu disini.
Inspirasi dari pembukaan bagiku
adalah, acara tak harus formal seperti ceremonial
kenegaraan. Menyemangati sejak pertama kegiatan membuat kami fulltank semangat.
Sebelum
lanjut ke sesi pertama, kita membuat kontrak belajar. Tetapi, uniknya bukan
peraturan yang berasal dari panitia yang dibacakan, disertai konsekwensi
hukuman apabila melanggar. Kami membuat aturan sendiri apa yang boleh dan apa
yang tidak boleh. Kami menyepakati semua yang kami tulis.
Sesi
pertama pematerinya bu Siti Amalia (Amel). Usianya 3 atau 4 tahun diatas Aku.
Masih muda, syar’i dan pintar. Biodatanya keren. Tak sia-sia Aku datang kesini,
ngalap elmu (ngelmu) nulis. Sesi ini member motivasi kepada kiat, peserta.
Bahwa menulis itu sejatinya ikhlas dan sabar. Beberapa trik disampaikan pula
oleh bu Amel. Kuncinya adalah PRJD, Pray,
Just Writte, Reading A Lot dan Discussion. Sesi ini walau singkat, sangat
menginspirasi. Beliau dengan pengalaman menerbitkan buku berkisah temannya.
Membaca
tak hanya dari yang tertulis. Bu Amel menuliskan dari hasil “membaca
lingkungan.” Tips nya juga diberikan agar kita berani dan percaya diri untuk
mulai menulis. Apapun hasil tulisan. Dari sesi ini, mulai kutemukan bentukan kunci dari inspirasi
menulis.
Cara
Menulis Kreatif, tema dari seorang penulis banyak buku, yaitu Pak Awang Surya.
Menurut beliau menulis merupakan investasi amal sholeh. Kita yang tidak
termasuk orang besar, atau bukan keturunan orang besar, agar menjadi besar maka
jadilah penulis. Begitu tuturnya. Menambah setruman motivasi untukku.
Menulis
itu agar lancar jaya, tidak terkungkung oleh mitos-mitos yang ga terlalu
penting. Mitos yang hanya dapat menurunkan semangat dan itikad menulis. Tiga
mitos dicontohkan. Mitos pertama bahwa tulisan harus bagus. Ini adalah mitos
yang sesat dan menyesatkan. Menulis itu, tulis aja apa adanya. Mengalir seperti
apa yang ada di benak. Menurut beliau, jika terkungkung dengan mitos ini, maka
tulisan pun dijamin tidak akan kelar. Bagus atau tidaknya sebuah tulisan itu
relatif. Jika ingin disebut bagus, maka berikan tulisan kita agar dibaca oleh
orang terdekat kita, istri atau suami misalnya. Dijamin akan dipuji.
Namun,
Pak Awang menyarankan, jika tulisan kita ingin baik, maka berikan pada teman
yang memang memiliki kemampuan di bidang tulis menulis. Atau bahkan diberikan agar
dibaca oleh penulis senior. Tentunya agar dapat kritikan yang membangun, hingga
tulisan kita menjadi bagus. Walau dengan hati sesak karena pedaasnya kritik
teman.
Mitos
kedua, untuk menulis itu harus menjadi orang hebat atau orang popular. Ini juga
mitos yang membahayakan. Dijamin, penulis pemula tak akan dikatakan hebat atau
terkenal. Nah, apabila menulis harus terkenal dulu. Ungkap Pak Awang, tulisan
tak akan jadi sampai kapan pun .
Mitos
merugikan yang ketiga adalah bahwa menulis harus dengan bahasa yang rumit.
Tidak demikian, papar nya. Menulis apa adanya saja, apa yang ada di benak ya di
tulis saja. Saat itu juga, tanpa menunda waktu.
Beberapa
langkah untuk menulis tulisan yang kreatif menurut Pak Awang adalah harus
pintar mencari ide. Ide muncul dari mana saja. Akan lebih bagus apabila ide
berawal dari hal yang ada di dekat kita, yang disukai kita atau bahkan yang
sedang digeluti oleh kita sebagai (calon) penulis.
Sumber
ide menurut pak Awang dapat berasal dari hasil membaca, mendengar, menonton dan
silaturahim. Apa yang diperoleh dari keempat kegiatan itu dapat kita gali dan
kumpulkan setelah melampaui kegiatan tersebut.
Menulislah,
dengan memulainya. Karena setelah memulai menulis akan menemukan banyak
keajaiban. Menulis saja hingga selsai,
tak usah merisaukan tanda baca bahkan EYD dan semua peraturan menulis. Menulis hingga selsai tulisan itu, Ujar
Pak Awang. Selanjutnya, tulisan yang telah selsai, baru dibaca, diedit. Tulisan
yang diedit adalah tulisan yang menurut kita tidak pas. Sebelum tulisan dikirim
ke surat kabar atau penerbit, maka mintakan seorang teman yang kredibel untuk
membaca tulisan yang telah selsai tersebut. Namun sebelumnya , kita harus siap
mental untuk menerima kritikan dan masukan. Langkah terahir adalah temukan
waktu terbaik untuk mood menulis.
Apa jadinya jika kita mentok
ditengah-tengah menulis? PakAwang memaparkan, ada beberapa hal yang
dapat dilakukan saat mentok menulis. Membaca (tidak harus
yang sesuai dengan apa yang kita tulis), melakukan hobby dan jalan-jalan. Langkah
preventif untuk mengikat ide dapat dilakukan dengan menuliskan di catatan atau
gawai saat itu juga. Begitu papar Pak Awang, memotivasi kami agar mulai
menulis.
Ahir
sesi ditutup dengan menulis bagaimana cara kita, peserta, bisa sampai ke acara
TWC batch 6 ini. Aku sendiri menuliskan dengan judul tulisan “ITEUNG MENUJU TWC.” Tak dikira
diahir sesi diumumkan tulisan terbaik, dan memperoleh doorprize dari hasil tulisan. Aku termasuk didalamnya, beserta
peserta lain. Hadiahnya buku karya Pak Awang Surya yang super keren. Mendapat
tandatangannya beserta pesan motivasi. Super dan ndredeg untukku yang belum pernah menulis.
Diahir
sesi, Pak Awang mengajak kita menulis antologi dengan tema “MUSIBAH MENJADI ANUGRAH”. Jujur saja, Aku sangat termotivasi untuk
menulis ini. Semoga semangat yang membuncah ini tetap ada sepulang TWC kelak di
rumah.
Inspirasi
dari sesi ini, adalah Aku Mau Memulai
Menulis Sampai Selsai.
Sesi
berikutnya diisi oleh DPF (Djalaludin
Pane Fondation). CSR yang bergelut dibidang pengembangan kapasitas guru
dalam penggunakan TIK dalam pembelajaran. Ini dilakukan diutamakan di daerah.
Pusat pilot project berada di
Sumatera Utara. Tema Inspirasi untuk negeri ini tiada lain bentuk kepedulian
sekumpulan anak muda yang berada dalam naungan DPF untuk kemajuan pendidikan
Indonesia. DPF ini menitikberatkan pada pendalaman pengetahuan dan kreasi
pengetahuan. Tahun 2017 DPF inifokus pada tema pendidikan karakter. Tentunya
melalui penggunaak TIK.
Mengapa
diberi nama Djalaudin Pane Foundation? Karena penggagasnya adalah tokoh bernama
Djalaludin Pane, seorang Bupati salah satu kabupaten di Provinsi Sumut.
Beliau sangat aware pada pendidikan dan
kemajuan pendidikan negeri ini ketika beliau masih hidup. Inspirasi
yang diperoleh pada sesi ini adalah bahwa setia orang harus peduli pada
kemajuan pendidikan dan kemajuan NKRI, apapun bentuknya sebisa kita.
Sesi
sore diisi oleh Pak Namim AB Ibnu Solihin. Materinya adalah Public Speaking. Ini keren banget, Aku
yang gagap dibidang public speaking
memperoleh angin segar. Ini dapat menghilangkan penyakit malu bicara di depan
orang lain. Unjuk kemampuan atau sekedar pengumuman saja gerogi tingkat dewa.
Bekal singkat tentang Public Speaking,
membuat penasaran. Aku ingin menjadi guru yang tidak gagap di hadapan umum.
Bukan guru yang lancer bicara di depan kelas saja.
Materi
ini sedikit yang dpat ku catat. Kebanyakan praktik bagaimana kita membaca
kalmat-kalimat orasi. Bahkan diahir sesi di tes bicara 30 detik tanpa kata “EU”. Apapun untaian kata yang
diungkapkan oleh kami para peserta, usahakan tanpa kata “EU”. Aku lolos juga di tantangan ini, walau belepotan ada yang
salah empok. Lumayan dapat lagi doorprize
gantungan kunci.
Inspirasi
dari sesi ini, Aku Ingin Menjadi Guru Yang Tidak Gagap. Aku harus
mengikuti/melatih diri tentang Public Speaking. Sukur jika kelak bisa mengikuti
pelatihan Public Speaking.
Masih
oleh Bang Namin, materi berikut tentang bagaimana cara membuat buku dan di
terbitkan sendiri. Hingga cara menghimpun dana agar dapat self publishing. Rincian dana pun dipaparkan. Hingga bagaimana
mencari link, serta dapat memfasilitasi atau menghubungkan kita yang akan
menulis ke penerbitnya. Insprasi sesi ini, Aku Harus
Menerbitkan minimal satu buku di tahun 2017.
Jurnalis
Warga, materi yang didsampaikan oleh orang hebat bernama Sony Laleka. Beliau
memaparkan sebagai prolog bagaimana media membentuk paradigma masyarakat. Jika
diibaratkan masyarakat adalah muridnya, gurunya adalah para jurnalis. Apapun
yang dicitrakan oleh media tentang sebuah issue, maka itulah paradigma yang
terbentuk di masyarakat. Kita bisa memerankan sebagai jurnalis warga , yang
selektif dalam menerima berita atau sebuah opini.
Trik
membuat reportase peristiwa dengan , metode 5W+1H. Ini dipraktikan langsung
dengan membuat reportase sesi beliau. Alhamdulillah tahap belajar, di sesi ini Aku
dapat doorprize lagi dari reportase
singkat berjudul “ TWC MENCIPTAKAN PENULIS (GURU)”. Satu buku kudapatkan. Buku
tentang Indonesia dan Maroko. Buku antologi anak bangsa.
Inspirasi dari sesi ini Aku harus membuat satu reportase setiap hari
dari kejadian yang dialami saat mengajar.
Setelah selsai materi Jurnalis Warga. Kita
menyimak bagaimana CARA MENJADI KAYA DARI MENULIS. Salah satu caranya adalah memanfaatkan
media sosial. Ini disampaikan oleh Pak Sudarma, ahli hipnoteraphy, juga penulis
yang sudah beken, pokoknya orang super keren. Di sesi ini peserta memperoleh
tugas membuat iklan buku di WA, dengan mengundag group lain ke group promosi
kita. Maka nanti orang lain yang akan joint
ke kita, bukan kita yang manual memasukan satu persatu kontak . Walaupun belum
tau bagamana cara me-link-kan sesuai
petunjuk tugas. Kita berusaha ngotret tugas di HP. Tinggal kita mencari info
bagaimana cara link antar group.
Sungguh medsos dapat dimanfaatkan. Bahkan
untuk bisnis. Atau bahkan menyebarkan tulisan yang kita buat. Inspirasi dari sesi ini adalah Aku akan mempelajari medsos dan
menggunakan untuk bisnis (buku) on line dan beramal on line.
Sesi
malam, diisi Miss Juli. Materi sesi ini tentang bagaimana cara menulis kreatif
di blog. Aku sendiri sudah dua kali membuat blog. Blog pertama entah kemana, password dan namanya pun terlupakan.
Satu tahun lalu, Aku buat blog, walau pun postingannya tulisan sendiri dan itu
pun hanya dapat dihitung jari. Paparannya detail bagaimana kita menulis di blog
sendiri atau di blog yang nantinya kita dapat financial. Ratusan artikel atau
tulisan dapat terkumpul dalam hitungan bulan.
Miss
Juli juga menerangkan bagaimana agar tulisan kita banyak yang membuka, membaca
dan mengomentari. Tiga kata kunci dalam menulis agar tulisan dilirik pemiarsa
dumay. Artikel atau tulisan di blog harus
ada paragraph pembuka (lead), gambar dan judul yang cetar menggoda.
Inspirasi sesi ini adalah aku ingin memenuhi blog dengan tulisan
cetar membahana, agar banyak dibaca dan dikunjungi, apalagi jadi bahan rujukan.
Kita
kembali ke kamar masing-masing dengan membawa PR. Tulisan catatan hari pertama
dan membuat iklan di WA. Aku upayakan semua selsai sebelum tidur. Aku mulai
menulis, tanpa mengedit, apa yang telah dilakukan di hari pertama. Lanjut
dengan tugas WA nya. Selsai sudah, aku pun mulai terlelap lewat tengah malam.
Ini pelatihan malam pertama begadang, bagaimana besok malam?
***
#Day_2
Aku
terbangun sebelum alarm HP menyala. Tak terasa mengantuk, sangat segar tubuh
ini. Heran juga padahal biasanya aku tertidur di jam 9 malam saja, pas bangun
masih terkantuk-kantuk. Tidur berkualitas. Apakah ini efek menuliskan apa yang
telah dilalui sebelum tidur? Bisa jadi, patut diteliti ini.
Setelah
sholat subuh, chatingan bersama keluarga sambil becanda sesama penghuni kamar
308. Lanjut mandi, dan hunting sarapan pinggir jalan, depan wisma UNJ. Aku
memilih gado-gado. Bu Tuni pun memilih gado-gado. Dua emak yang ingin jadi
penulis pun sarapan gado-gado nongkrong pinggir jalan raya. Selang berapa menit
datang bu Ana, yang semalam pulang dulu, sama hunting sarapan juga
.
Tiga emak nongkrong pinggir jalan. menikmati senyapnya Jakarta dan sedapnya gado-gado.
Niar hanya menitip air minum mineral saja, dia tidak terbiasa sarapan, katanya.
Tepat
jam 8, empat penghuni kamar 308 masuk ke ruangan. Nampak ada panitia sedang
mempersiapkan ruangan. Satu dua orang peserta lain juga sudah berada di dalam
ruangan. Kita mencar, menduduki kursi yang sama persis dengan hari kemarin.
Hingga ruangan pun penuh, dengan formasi duduk yang sama dengan hari pertama. Kami
sudah PW (posisi wuenak) dan siap-siap menggelar laptop, Tetapi panitia meminta
para peserta mengubah formasi duduk. Aku sama Niar hanya bergeser beberapa
kursi ke samping. Yang penting berubah, toh menurut fisika gerak itu syaratnya
berubah posisi, tidak peduli berapa besar perubahannya. Pikiran nakal, atau
malas gerak ya?.
Sesi
pertama adalah “Pemanfaatan Blogg Sebagai Media Pembelajaran” oleh Om Jay
(Wijaya Kusumah), Pendiri dan Ketua dari Komunitas Guru Ngeblog Indonesia.
Saat
sesi prolog, Om Jay memberi pertanyaan dan jawabannya segera kirim ke sms atau
WA beliau. Aku pun dan semua peserta menjawabnya dengan mengirim ke sms dan wa
Om Jay. Kriteria pemenang kuis adalah jawaban benar dan tercepat.
Om
Jay berbagi kisah hidupnya, full motivasi. Bagaimana Om Jay menjuarai berbagai
lomba tingkat Nasional di berbagai event. Baik dilaksanakan pemerintah maupun
non pemerintah. Semua bermula dari kebiasaannya menulis dan ngeblog. Buku-buku
yang diterbitkan penerbit ( bukan self
publishing) di cetak lebih dari satu kali. Semua berawal dari blogg.
Satu judul buku, yang dijadikan jargon dalam
pelatihan di TWC Batch 6 membakar motivasi kami yang ingin menjadi penulis
(pemula). Walaupun beberapa diantara peserta ada yang telah menerbitkan buku
mereka. Salut, sudah bisa menerbitkan pun masih terus belajar menulis. Apalagi
aku, yang belum pernah menerbitkan buku. Slogan TWC 6 ini adalah, MENULISLAH
SETIAP HARI, DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI. Setiap panitia menyapa “Apa
kabar hari ini?” maka di jawab dengan slogan ini. Slogan ini sama persis dengan
salah satu buku Om Jay.
Apa
yang mejadi tulisan kita, simpan di blog, google
drive, atau sejenisnya. Supaya dapat diunduh, disimpan aman. Jika
sewaktu-waktu ada sesuatu hal dan dibutuhkan file bisa dicari. Salah satu
keuntungan ngeblog ya mengamankan dan mendokumenkan apa yang menjadi idea atau
dokumen kita. Target Komunitas Guru Ngeblog Indonesia adalah 1000 guru ngeblog.
Banyak
kalimat motivasi yang disisipkan Om Jay saat bertutur. Beberapa yang
trertangkap adalah
“Juka kita bekerja sungguh-sungguh, maka
rezeki akan mudah”
“ Tiga cara menjadi kaya di usia muda ;
menjadi anak orang kaya, menikah dengan anak orang kaya, jadilah orang
kreatif dan berkarakter (salah satunya dengan menjadi penulis).”
“Bangun
mental Upload, bukan mental Download”
“Menulislah
dari hatimu, Maka kau akan menyentuh pembacamu” (blog nya Irma Senja Almh.)
“Jika
gagal, jangan putus asa, ada scenario Alloh SWT yang dipersiapkan untuk kita”
“Hidup
itu singkat, hiduplah bermanfaat dengan apa yang kita suka (menulis misalnya)”
“Jadikan
menullis sebagai kebutuhan”
“5K
pengaruhi dunia : Konvergensi, Konten Kreatif, Kolaborasi, Konektivitas,
Konstektual”
“ Ikatkan
ilmu dengn meulliskannya (Ali Bin Abi Tholib)”
“ Menulis
harus seperti sholat, FOKUS”
“Empat
kekuatan manusia ; Pikiran, Perkataan, Perasaan, Perbuatan (Prof. Arif Rahman)”
(dan diabadikan dalam tulisan)
Semua
yang diapapar kan Om Jay, menghipnotisku dan tentu peserta lain. Memberi
motivasi, bahwa keberhasikan itu berproses. Gagal jadikan evaluasi, lalu
perbaiki dan mencoba lagi. Semangat membuncah untuk memulai menulis, lebih
tepat mengumpulkan yang terserak di file laptop dan di catatatn-catatan.
Di
ahir sesi, Om Jay mengumumkan pemenang kuis, dengan membacakan nomor WA. Setelah
pengumuman, senyap, kok aku berasa kenal nomor yang disebutkan? Aku intip nomor
WA ku, eh ternyata nomorku. Parah, masa ga hafal nomor sendiri? Aku pun mendapatkan
buku karya Om Jay berjudul “TIK : Menulis Blog Untuk Pendidikan” dan dapat
berfoto bersama bersama orang ngetren,keren dan beken bernama Om Jay. Suka suka
suka, liburan nyentrik kali ini.
***
Selfie
Jurnalism, materi selanjutnya oleh Cak Imam Suwandi, Seorang Jurnalis Metro TV.
Point
pertama yang dibedah adalah “Menulis Informating
dan Menciptakan Informasi” ini dapat dilakukan dengan kita jeli mencari
informasi yang baik (benar), mampu mempublikasikan dengan baik (benar) dan
berkolaborasi dengan yang lain. Dibalik tayangnya informasi di media ya
menempuh langkah tersebut. Reporter (wartawan) tidak bisa berdiri sendiri
menayangkan berita, mencari data dengan baik tentu disertai oleh poengambil
gambar/vidio, membutuhkan sumber data, informan (masyarakat), pembaca berita,
dan perangkat laiinya. Tentu saja untuk semua itu dibutuhkan kolaborasi yang
baik dengan semua pihak.
Menulis
kreatif dapat diawali dengan bagaimana kita bercerita. Sebelum kita bercerita
satu hal, tentu harus mencari sumber yang akan diceritakan (dalam tulisan). Ini
bisa bersumber dari pengalaman pribadi (diri sendiri, atau orang lain). Ini
dapat dilakukan dengan browsing, membaca surat kabar, menonton televise,
mendengar radio,wawancara, atau bahkan mendengar rumpian orang lain.
Empat
dasar jurnalisme yang tak dapat dipisahkan satu sama lain yaitu menulis,
memotret, merekam, mengga,mbarkan. Ini dasar utama, merupakan fokus awal. Bisa
dikatakan sebagai bahan baku jurnalisme.
News Value (nilai
berita) dapat dibagi menjadi beberapa point :
ü Magnitude
ü Significance
ü Actuality
ü Promixility
( emosi kedekatan, missal seagama, sekampung, dsb)
ü Conflict
ü Human
Interest ( yang membuat Baper, menggerakan hati, contoh kisah keluarga
buta,dsb)
ü Unusualness
(tidak biasa, contoh fenomena telolet)
ü Seks
(missal kespro, dsb)
Modal
penting dalam menulis
Ø Akurat;
mengumpulkan data secara detail, sehingga tulisan tidak akan menipu pembaca. Setelah
tayang, atau dimuat, maka harus dievaluasi kekurangannya untuk dijadikan
perbaikan di tulisan selanjutnya.
Ø Menggoda dengan LEAD. Lead adalah paragraph pembuka. Lead menentuka apakah pembaca akan
meneruskan membaca atau tidak. Pembaca akan tertarik danpenasaran menyelesaikan
bacaanya atau tidak. Kuncinya ada pada lead. Namun, lead juga menjadi jembatan
penghubung dari judul berita ke isi berita. Jenis Lead yang diantaranya : Berupa ringkasan, berita, deskriptif, atau kutipan.
Ø Buat Judul memikat
Ø Pancing pembaca
Ø Menulislah
Penghujung sesi diisi
dengan praktek membuat lead berita. Aku memilih judul berita “TELOLET DAN
AKIDAH”. Setelah menulis dipilih acak dari peserta membacakan lead. Sesi ini bersukur tidak kebagian
membacakan berita. Asli tak bisa jika
kebagian. Plongggg.
***
Sesi
berikutnya diisi oleh Pak Bayu Setiawan. Akrab dipanggil Mas Bayu. Tema pembicara kali ini adalah “Pemanfaatan Tools Gadget”. Statement memotivasi di berikan di awal
sesi. “ Orang yang terus belajar akan menjadi penguasa masa depan”.
Lanjut
dengan pretest. Peserta mengerjakan soal yang menggunakan aplikasi google drive,
tipe google form. Pertanyaan seputar
icon yang ada di gadget atau laptop. Ada dua dari semua pertanyaan yang tidak
ku kenal. Google class room dan apa
satu lagi lupa. Disini aku merasa gaptek!!.
Ada
dua tantangan hidup di era sekarang ini. Tantangan pendidikan dan tantangan
menulis, Keduanya saling menopang. Pembuktian bahwa kita berpendidikan dapat
direalisasikan dengan keberhasilan melewati tantangan untuk menulis.
Sesi
ini diisi pula dari google for education.
Kami menyimak serangkaian konten google
yang dapat dimanfaatkan untuk segala macam. Termasuk untuk pendidikan.
Khususnya dimanfaatkan oleh guru. Aku menyimak demo bagaimana konten ini
dimanfaatkan. Tidak terkejar. Aku berbisik ke Niar, “Aku gaptek banget nich,
gimana biar bisa kaya gitu?”. Niar bilang,” ikutan IDL, tiap tahun ada. Tahun
ini aku udah ikut, keren Teh.”. Aku pun minta Niar mengabari, jika ada
informasi. Aku mencatat event ini.
Konten
google for education disampaikan oleh
Steven, alumni TWC sebelumnya. CP jika ada yang mau sharing atau bertanya dan diskusi ke 085741901033.
Mas
Bayu memberi PR untuk membuat slide dan
vidio. Namun entah lah. PR 20 halaman pun disampaikan Bang Namin. Target mala
mini membuat tulisan 20 halaman dengan tema perjalanan paling menarik selama
menjadi guru.
***
Sesi
berikutnya diisi Pak Thamrin S. Pemilik penerbit indie dan sebagai editor
Mizan. Wow , fantastis. Lagi-lagi tidak menyesal datang ke camp unik ini. Bagaimana tidak unik? Saat orang liburan, mengapa
kita 20 orang aneh berkumpul, belajar dan berbayar. Sepertinya memang harus
menjadi orang aneh, agar dapat sukses seperti mereka, para nara sumber dan
panitia TWC 6.
Tema
Pak Thamrin S adalah “Cara menerbitkan buku secara mandiri”. Menurut Pak
Thamrin, guru sangat berpotensi untuk menulis buku. Banyak sumber tulisan untuk
guru. Hanya saja guru butuh menggali kreatifitas untuk dapat menulis buku.
Penerbitan
buku secara mandiri adalah cara menulis buku dan menerbitkan dengan modal
sendiri, dipasarkan sendiri. Penerbitan buku sendiri disebut penerbitan indie.
Sekarang sudah banyak penerbit yang melayani penerbitan buku indie. Tetap
memiliki ISBN. Jika kita menerbitkan secara mandiri, maka harus cerdas
memasarkannya. Agar penulis tidak mengalami kerugian jika buku tak terjual
habis.
Sedangkan
penulisan mayor adalah penerebitan buku yang dilakukan oleh penerbit besar.
Penulis hanya menulis buku saja, adapun layout dan serangkaian editing hingga
buku jadi dicetak dilakukan oleh penerbit. Penulis tidak mengeluarkan modal
uang. Pun tidak memasarkan bukunya. Penerbot sudah link ke berbagai toko buku.
Namun, income untuk penulis 10% dari harga buku. Tanpa menanggung resiko jika
buku tidak terjual semuanya.
Perihal
ISBN, penulis harus hati-hati. Terutama jika menerbitkan indie. Terdadpat 20%
ISBN palsu menurut perpustakaan nasional. Entah bagaimana ceritanya, ISBN pun
kok dipalsukan. Padahal pengurusan ISBN tidaklah rumit, dan tidak mahal. Semua
perkumpulan yang berbadan hokum dapat mengajukan ISBN. Perkumpulan, organisasi,
yayasan, dan sejenisnya. Asal memiliki badan hukum. Cara ngecek ISBN bisa
dengan scan dengan aplikasi yang langsung terkoneksi link perpusnas.
Syarat
mengajukan ISBN adalah dengan membuka web perpusnas, mengajukan bisa via email
dan lain sebagainya. Adapun yang dilampirkan dalam pengajuan adalah:
ü Judul
ü Daftar
Isi
ü Kata
pengantar
ü Lampiran
Nilai
jual dari sebuah buku adalah kata pengatar dari seorang tokoh dan endorse (testimony). Maka ada baiknya
buku tersebut diminta dibaca oleh beberapa tokoh kredibel dan popular.
Setidaknya atasan kita yang member testimoni.
Penjualan
buku, terutama jika penerbitannya indie, maka semua ranah yang dapat
dimanfaatkan marketing. Media sosial dapat dipergunakan. FB, WA, BBM, web
on-line dan sebagainya.
Menentukan
harga jual buku, jika penerbit besar diprediksikan dua kali lipat dari harga
produksi. Namun jika penerbitan indie, ya terkadang tidak mengambil keuntungan.
Sebuah toko buku akan menyetok minimal 2000 eksemplar. Penerbitan indie
biasanya modal awal adalah sejumlah 40 eksemplar. Semakin banyak cetak, harga
atau biaya ongkos cetak semakin murah. Terdapat beberapa trik dilakukan oleh
penulis yang menerbitkan indie. Salah satu trik, memasarkan terlebih dulu
sebelum proses cetak. Sehingga jumlah pembeli telah tergambarkan. Penulis
pemula agar dapat menerbitkan buku bisa diawali dengan menulis buku keroyokan,
atau antalogi. Tulisan yang telah dipublish di media sosial, blog bahkan surat
kabar, dapat ditulis dan dicetak dalam sebuah buku.
Rupa-ruoanya
Pak Thamrin suka menerbitkan secara indie, nama penerbit naya adalah PENITI
MEDIA. Peniti bukan peniti untuk mengaitkan hijab. Tetapi peniti alat sebagai
langkah awal seorang penulis (pemula) agar dapat terus semangat berkarya.
Pak
Thamrin juga seorang editor dari Mizan. Jika ada buku yang memang ngetop, meski
melalui penerbitan indie, tak jarang penerbit menawarkan ke penulis dicetak
ulang, dengan segala hak editor dan lain sebagainya ada di tangan penerbit.
Tentunya akan menaikan rating bagi penullis. 10% dari harga buku sebagai
royalty. Tanpa capek menawarkan kepada calon pembeli.
“Biarkan buku itu membela
dirinya sendiri”
(Prof. HAMKA).
***
Tips
Cara Mudah Guru Menulis. Tema ini disampaikan oleh alumni TWC. Beliau dua kali
m,engikuti TWC. Keren, sudah menerbitkan bukunya. B U Atjih Koeniasih,S.Pd.
Guru IPS salah satu SMP Negeri di Ciajur.
Tips
dari beliau agar guru dapat menulis :
ü Menulis
setiap hari di blog, medsos.
ü Berlatih
di medsos
ü Tulis
yang segala dilihat, didengar, dirasakan, dan yang dikerjakan.
ü Sumber
inspirasi dari hal-hal yang sangat sederhana
ü Menjadi
diri sendiri
ü Tulislah
sampai selsai
ü Edit
belakangan, setelah tulisan selsai.
***
Sesi
sore, diisi oleh Pak UKIM KOMARUDIN. Beliau penulis berbagai genre dan banyak
buku. Beliau penulis buku ‘ARif Rahman Guru’. Tahun lalu aku memperoleh bukunya
saat simpisium dalam rangka HGN 2015. Alhamdulillah setahun kemudian bertatap
muka menerima ilmu-ilmunya. Tema sesi ini adalah ‘Proses Kreatif Kepenulisan’.
Pak
Ukim, menceritakan perjalanan panjang penuh liku sebagai penulis. Pernah gagal
dan ditolak? Iya. Dan terus mencoba. Menulis itu setelah selsai harus “dilupakan”.
Karena penulis itu pejuang.
Guru
menulis itu salah satu amaliah tugas guru. Tugas guru adalah mendidik,
mengajar, mengispirasi dan menggerakan. Salah satu implementasinya adalah
dengan menulis. Karena hal yang dapat diwariskan kepada generasi penerus dan
keturunan kita adalah tulisan. Penulis itu pejuang, maka dari itu harus mau
berproses. Proses hidup dengan berbagai sisi. Proses gagal, proses dikerjain
orang, proses tak dibayar dan lain sebagainya. Jadikanlah semua proses sebagai
modal investasi untuk menjadikan kita menjadi penulis handal.
Passion
“mengetiklah
satu malam , walau hanya satu paragraf’” trik menjadi penulils pemula ya bisa
dilakukan seperti ini. Apapun tuliskan. Passion akan membawa ranah tulilsan
kita. Kkita dengan sendirinya akan menulis apa-apa yang menurut kita menarik,
interest dan membuat kita tidak dapat berhenti menuliskannya. Passion akan
muncul karena dibiasakan. Passion tidak
akan datang dari langit. Passion akan mengalahkan segala hambatan.
Mulailah Dari Yang Kecil-Kecil
Kita
menulis, lalu kirimkan ke media yang mungkin akan memuat tulisan. Tidak
langsung level internasional, local, regional, nasional dan Internasional.
Semua level jika terlewati akan mengasah kualitas tulisan kita. Jangan kecewa
saat tulilsan ditolak. Jadikan koreksi diri dan motivasi.
Buat Kliping
Kliping
dibuat untuk dokumentasi. Bahkan mungki suatu saat dimasa depan dapat dibukukan
( jika artikel).
Siap Berkolaborasi.
Jika
belum bisa menerbitkan buku sendiri, kita harus keroyokan atau berkolaborasi
dengan orang lain. Atau dapat juga membonceng dengan penulis terkenal. Misalkan
dalam buku antalogi kita menggandeng dengan mengajukan proposal penulis
terkenal. Misalnya antalogi novel ‘Cinta Lelaki Biasa’ . Asma Nadia digandeng
oleh para peniulis pemula hasil seleksi penerbit mayor.
Trik menulis juga diberikan oleh paak Ukim.
Buat tulisan tentang sesuatu. Tulis sampai selsai. Setelah selsai baru
dirapikan / diedit. Print, klipigkan. Lalu publikasikan/ kirim ke media. TUlis,
Print. Tulis, Print.
Untuk
melakukan kebiasaan menulis, bisa juga diawali dengan membiasakan update status
di FB. Isinya tidak menjelekan orang lain. Bisa juga menggunakan fasilitas note
di FB atau di aplikasi lain. Print dan klipingkan.
Dua
hal yangb akan merusak energy ; Orang sekitar yang membenci kita dan rasa
pesimis dalam diri. Ini rantai gajah. Tinggalkan rantai gajah!!!.
Beberapa
tips agar dapat terlatih menulis :
ü Ikuti
berbagai lomba menulis
ü Menulis
buku sendiri
ü Menulis buku
dengan membonceng orang terkenal
ü Harus
tetap rendah hati
ü Menulis
buku untuk seseorang
Trik
menulis buku Mata Pelajaran : Bersama-sama dengan orang lain, Ihlas, tulus.
Jika
tulisan diedit banyak atau bahkan ditolak:
ü Jangan
pernah sedih, setelah lapang hati, edit dan perbaiki
ü Rubah
konten kekiniannya
ü Lengkapi
dengan ilustrasi-ilustrasi hingga buku enak dibaca.
ü Buat
kata0kata kekuatan
Misalnya “ TAHUN 2017, SAYA AKAN
MENULIS SATU BUKU DAN DITERBITKAN” pigura dan temple di dinding kamar tidur.
Lihat setiap hari. Kolaborasi dengan pasangan atau keluarga agar mengingatkan
saat melemah motivasi atau malah malas.
Peserta
diingatkan kembali dengan target hari kedua. Tulisan 20 halaman. Untuk
diterbitkan. Ukuran A4, Huruf Tahoma ukuran 14, spasi 1,5. 4,3,3,3 ukuran
margin kertas. Biodata bukan halaman ke-20 , tetapi halaman ke -21. Jika lebih
dari 20 halaman lebih baik.
***
Sesi
siang selsai. Saatnya Istirahat dan masuk lagi pukul 08.00 WIB.
***
Saya
piker sesi malam full mengerjakan tugas. Ternyata masih ada satu materi di hari
itu. “Menulis ala Coaching” yang
disampaikan oleh Andri You(lianto). Kepala Sekolah Alam. Tema nya Metode
Efektif Melejitkan Potensi Guru dan Siswa dari Belenggu Sekolah.
Pak
Andri mendemokan cara coaching kepada salah seorang peserta. Coaching sejenis
wawancara dan menggiring ‘client’ menyelesaikan permasalahannya. Melalui
wawancara, dengan masuk pada jiwa ‘client’. Hingga memiliki kesimpulan solusi
menyelesaikan permasalahan dengan potensi yang dimiliki.
Kunci
dari Coaching disingkat STUDENT:
S
Situasi
T
Target
U
Urgensi
D
Depelophment (pengembangan)
E
Eksplorasi
N
Need
T
Treathment
11
kompetensi coaching
1.
Performal Quitioning
2.
Establish Tryst
3.
…
11.
Student
Coaching :
T
Tasking
A
B
Behaviour
E
Experiencing
L
Learning
Sesi ini
sangat tidak kondusif. Bukan pemateri yang salah. Peserta ada beberapa yang
memulai mengerjakan tulisan PR.
Buku siap
cetak dari Andri You, bila ada hal-hal yang ingin didiskusikan dapat contact ke
08138826711.,
***
Setelah
sesi selsai, peserta start dari jam 10.00 malam untuk menulis 20 halaman. Pukul
11.30 malam kami harus meninggalkan ruangan. Kami pun berlanjut mengerjakan PR
di dalam kamar. Aku mengerjakan pas 20 halaman sampai subuh. Tamat semalam
tidak tidur. Mengerjakan PR tulisan 20 halaman.
#Day_3
Usai
hunting sarapan, gado-gado, aku dan penghuni 308 menuju ruangan, menduduki
p;osisi yang berbeda. Seharusnya. Aku sama Niar duduk ditempat yang sama persis
di hari pertama. Langsung membuka laptop. Pesserta yang belum selsai
mengerjakan 20 halaman tulisan dipersilahkan melanjutkan tulisan. Peserta yang
telah selsai mengumpulkannya dalam flashdisk, dikoordinir Azkia, peserta
termuda dan cute.
Aku
piker tak ada lagi materi. Eh ternyata limpahan pengetahuan jelang penutupan
masih ada. Sharing yang bikin penasaran. Pemanfaatan google dalam pendidikan.
Mas bayu member cara membuat goole form. Dan membagikan satu aplikasi yang
keren. Walau belum bisa dipraktekan semua ditempat, lumayan dapat dipelajari
nanti selepas acara ini di tempat tinggal masing-masing.
Teman-teman
masih menyelesaikan tulisan. Menuju halaman 20 memang butuh perjuangan bagi
aku, dan teman-teman yang belum pernah menulis. Hingga pembagian serytifikat,
penutupan usai, narsis-narsis dan foto-foto yahh Rukun Wajib Pelatihan_Aku.
Di
ujung acara, walaupun kurang dari 20 halaman, tulisan peserta ditampung, dan
tetap akan diterbitkan. Pemesanan keroyokan untuk penerbitan keroyokan sebanyak
200 eksemplar buku. Koordinator marketing diangkat aklamasi adalah Bunda
Nuraeni, pengawas keren dari Cianjur.
Kami
pun pulang, menuju tempat masing-masing dengan membawa virus menulis. Virus
yang diharapkan tumbuh berkembang biak bahkan menular pada ekosistem menulis di
daerah masing-masing.
Komentar
Posting Komentar