Sepatu Basah Ujang

Oleh : Nie Noor
Hari
berganti, liburan hampir usai. Tinggal menghitung waktu, 3 x 24 jam saja. Hiruk
pikuk rumah akan berpindah ke sekolah. Seisi rumah mulai mencari seragam dan
pekakas sekolah. Ade, gadis mungil kelas 3 SD tak kalah. Dia menyiapkan segala
keperluan sekolah. Hari itu, dia selsai mencuci tas, sepatu dan seragam sekolah
untuk seminggu telah bertengger di lemari kayu kamarnya.
"Ade mah
udah cuci sepatu, tas. Bukunya udah rapi, seragamnya udah diurutkan hari."
Dia melapor ke ambunya.
Ambu Iteung
tersenyum dan mengelus kepala gadis kecil itu.
"Bagus,
bageur pisan putri ambu." Tak tertinggal Iteung memuji anaknya.
Ade pun
anteng membaca komik, sambil nonton TV. Entahlah, padahal matanya tertunduk ke
komik. Tapi saat TV di ubah chanel, dia menjerit. Tak seorangpun yang boleh mengubah chanel TV saat film
kesayangannya tayang.
"Ujang,
udah siap juga perangkat sekolahmu?" Iteung melirik bujang tanggungnya. Dia
sedang asik memainkan games di HP abah
Kabayan.
Ujang tak
bergeming. Tetap anteng dengan HP.
"Ujanggg,
sudah siap peralatan sekolahmu?" Iteung menjawil bahu Ujang.
Ujang
terperanjat, hampir saja HP abahnya jatuh.
"kulan,
Ambu?" Malah kembali asik demgan HP, hanya sekedar melirik ambunya.
"Seragam
dan pekakas sekolah mu sudah siap?" Iteung mengulang kali ketiga
pertanyaanya.
"Udah"
Sahut ujang,santai.
"Sepatu
sudah dicuci?" Iteung memastikan Ujang faham dengan jawabannya.
"Udah,
masih bersih kok." Ujang menjawab tanpa melirik,dan tetap anteng dengan
gamesnya.
"Tas
sudah dicuci? Buku sudah disiapkan?ikat pinggang, peci, seragam putih?"
Berondong Iteung tanpa jeda.
"Udaahh..."
Lagi-lagi tanpa melirik, apalagi menatap.Ujang menyahut.
Iteung
percaya, Ujang sudah mempersiapkan semua kepentingan sekolahnya lusa. Berubah
juga setelah di kelas 6 SD. Pikir Iteung.
Dua hari
berlalu. Malam senin tiba. Iteung pun tetap cross ceck kesiapan belajar
anak-anaknya.
"Ade,disiapkan
buku untuk besok ya." Iteung mengingatkan gadis bungsunya.
"Udah
ambu." Ade menjawab, tetapi dia beranjak ke kamarnya. Membereskan buku dan
memasukannya ke dal tas sekolah. Meraut pensil, dan membereskan pekakas lain.Tak
tertinggal sepatu berpasangan dengan kaus kaki disimpan dekat pintu kamarnya.
Seragam putih merah dari kerudung, baju dan rok digantungkan pada paku yang
menancap di dinding kamarnya.
"Sip,
bagus pisan Ade." Iteung tersenyum bangga pada gadis mungil itu.
"Ujang,
siapkan juga dong buku dan seragam untuk besok. Ade mah udah beres."
Iteung menoleh Ujang. Lagi-lagi sedang anteng maen games.
"Ujaaaanggggg..."
Iteung menaikan volume. Hingga level 6.
"Eh, iya
kulan, ada apa mbu?"Ujang kaget.
"Baju,
sepatu ,buku dan semuanya siapkan dong." Iteung dengan volume masih level
6 mengingatkan ujang.
Ujang lekas
ke kamarnya. Iteung mengintip di balik pintu kamar Ujang. Nampak Ujang
membereskan buku dan segala pekakas ke dalam tas. Iteung bergegas ke ruang
tengah. Lega, Ujang sudah mulai hideng. Walau alarm harus volume level 6 untuk
mengingatkannya.
Selang berapa
lama Ujang beranjak menuju kamar mandi. Lumayan lama.
Tak
dihiraukan, mungkin sedang memenuhi panggilan alam.
Jam 9 malam
telah dilewati 12 menit lalu. Kantuk menyerang semuanya. Termasuk Iteung, Ujang
dan Ade. Kecuali Abah, masih anteng dengan tebal bukunya yang cermat dibaca
sejak dua jam lalu. Iteung, Ujang dan Ade pamit tidur ke Abah. Semua terlelap
di dekap hitam malam yang makin pekat.
Keesokan
harinya. Abah membangunkan Iteung setelah dia pulang dari mesjid. Tepatnya
memang Iteung tertidur lagi setelah dibangunkan abah sebelum subuh. Kesibukan
jelang sekolah pun kembali hadir. Morning job.
Ujang dan Ade
mengaji subuh kembali. Iteung dan abah berbagi pekerjaan pagi hari. Hingga
waktu sarapan tiba, pukul 06.00. Ade sigap dengan seragamnya yang telah
dipakai, Ujang juga. Iteung dan Abah pun telah siap berangkat berbarwngan
dengan anak-anak menjemput rezeki.
"Ayo,
Ade dan Ujang pakai sepatunya. Biar abah siap-siap manasin motor, kalian dah
siap berangkat." Abah mengomando.
Ade cekatan
memakai sepatu.Kali ini dia pakai dari kamarnya. Sepatunya bersih, tak nampak
itu sudah berumur dua tahun setengah.
"Siappppp
grak." Ade keluar kamar dengan seragam rapi dan tas ransel ungu yang
hampir lusuh.
"Ujang,
udah siap belum.Hayu berangkat." Abah memanggil bujang tanggung itu.
"Heyyyy,
ngapain Ujang di balik kulkas?" Iteung heran melihat ujang mengendap-endap
di dapur.
"He he
he, ini ambu, mau ambil sepatu." Ujang cengar-cengir.
"Kenapa
tikus membawa sepatumu hingga ke balik kulkas?"Iteung mulai jengkel.
"Eh,
engga ambu.Bukan sama tikus." Ujang tetap cengengesan.
"Ini,
malam ujang elap-elap sepatunya. Masih kotor, lupa ga di cuci. Biar kering
Ujang simpan di belakang kulkas." Ujang menjelaskan.
"Kaya di
Upin Ipin. Kan belakang kulkas panas Ambu.Jadi sepatunya bisa kering."
Lanjutnya, tak menghiraukan Iteung yang menahan kesal.
"Kenapa
ga diatas TV sekalian sepatumu disimpan?"Iteung menghardik, menahan
volumenya agar tak sampai level 6. Malu lah pagi hari sudah pasang volume level
6.
"Kata
ensiklopedia yang Ujang baca. Kulkas itu mesin pendingin. Panas dari
benda-benda dalam kulkas dikeluarkan oleh kulkas. Nah tempat keluarnya
sepertinya ya itu Ambu. Dibelakngnya. Ujang sentuh, ternyata memang benar
disebelah sana yang paling panas." Ujang malah panjang lebar menjelaskan
ke ambunya.
"Kalau
istilahnya ensiklopedia, itu teh reservoir tinggi dan reservoir rendah gitu
ya?ah lupa lagi. Biar nanti Ujang buka lagi bukunya." Lanjut Ujang, malah
ceramah 2 sks.
Gemerutuk
gigi Iteung, tetapi heran juga si Ujang ada-ada aja. Menyambungkan cerita film
kartun favoritnya dengan isi buku.
"Aeh-aeh....ari
Ujang, cepat sepatunya pakai! Ditungguin dari tadi." Abah menghampiri
dengan teguran volume level 5, tidak senyaring Iteung memang.
Ujang pun
cepat memakai sepatu, walau masih sedikit basah. Dia tak mau protes, dan tak
mengatakan sepatunya masih basah. Dapat dibayangkan dua volume level 6 dari
abah dan ambunya akan beresonansi pagi ini. Biar selamat dan diantar sampai
sekolah, Ujang memilih bersepatu basah ke sekolah.
***
Komentar
Posting Komentar