RINDU EDELWIS


Oleh : Nie_Noor



Teramat terik untuk meneruskan langkah. Gadis beransel duduk di tepi koridor. Rimbun dedaunan sebuah pohon semi raksasa cukup mwnyejukan. Pasokan oksigen dapat menambah volume segar udara yang dihirupnya. Sesekali menatap jam di HP jadul warisan Kakaknya. Lima belas menit berlalu, dan tetap memaku. Sepertinya ada yang dia tunggu.
"DARRRR !!!" Suara ngebas mengagetkan dia, deserati telukan keras dibahunya.
"Kamuuu,,,,bikin kaget Rien aja! gimana kalo jantungku copot?gimana kalo aku pingsan?" Memekik, kaget.
"Sorryy....aku ga sengaja Rien!" Sahut gadis berhijab panjang, bersepatu kets dan sama-sama menggendong ransel.
"Hmm, barusan ko' Rien nunggunya.Ga apa-apa.Beneran, swear dech, cuma ini kaki ko serasa berakar ya?" Santun dibuat-buat." Rien udah lumutan tauuuuuu nunggu kamu disini!!" lanjut dengan teriakan.Kesel.
"Maaf...aku terlambat, nich udah aku beliin ini, sebagai tanda maaf dariku." Adel,nama gadis itu, memelas."Tapi, gantiin, nich es krim hula-hula harganya 10ribu" Adel menggoda sahabatnya.
"Gila, kebangetan kamu, masa yang maafin malah mbayar 150 persen lebih mahal dari warung, Del?" Rien mendebat.Tetap es krim kesukaan mereka berdua disamber juga.
"Mending lah aku minta ganti dalam rupiah, coba kalo pake dolar Amerika, baik kan aku?" Kilah Adel.
Kedua sahabat itu menikmati es krim hula-hula bersama. Melepas lelah dan penat. Tak memperdulikan lalu lalang orang. Tak peduli kerlingan mereka. Aneh juga, ada dua gadis muda makan es krim pinggir jalan.
Itu terjadi lima tahun lalu, saat Rien dan Adel sama-sama berada di kota ini. Setelah ngolecer tunaikan tugas masing-masing. Mereka berdua selalu melepas lelah dengan menikmati es krim secara unik. Adel pergi jauh beratus kilo meter. Terpisah laut jawa. Bersama keluarga kecil.
Rien menyadari, dan memang mendorobg Adel untuk menyusul suaminya. Setelah sahabatnya berpisah selama 4 tahun. Hanya berjuma sejali dalam setahun. Bukan hubungan yang baik bagi sepasang kekasih halal. Rien menyamoingkan segala ingin, agar Adel tetap tinggal di kota ini. Rien dalam ego nya menginginkan Adel bersama menemaninya mengapakan sayap. Membangun dan menumbuhkan Nasyiah disini. Didaerah yang bukan main banyak tantangannya.
"Teettttttt" Klakson motor menyadarkan lamunan Rien.
Sesosok lelaki gagah menantinya. Rautnya nampak aga kesal.
"Udah lama ya Kang?" Rien basa-basi memasangkan helm.
"Ya, lumayan lah.Bisa menyaksikan bidadari makan es krim pinggir trotoar sendirian. Melamunkan siapa tuch?" Lelaki itu menghoda istrinya.
"Kang Farid ini loh ah, jangan gitu dong, ya mikirin penjemput yang tak kunjung datang lah." Rien ngeles.
Keduanya lun lenyap di tengah terik dan hiruk pikuk jepulangan anak sekolah dan pekerja kantor pemerintah.
Meski Singaparna  kota kecil.Tetap lumayan ramai jika jam bubar sekolah dan kantor pemerintahan.
***
Diskusi masih alot. Menentukan tema FGD para perempuan muda agar melek informasi. Sedikit repot memang menyusun formula nya. Maunya forum diskusi, namun apa daya. Ibu-ibu muda itu belum terbiasa. Masih ke konsep pengajian biasa yang menginduk kegiatan para Bapak dan Emak nya. Rien tetap mempertahankan formula diakusi semi formal. Bahkan kalau bisa ingin sepierti diakusi atau seminar kampus. Rekannya tetap bersikeras, belum saatnya para pemirsa yng biasa pengajian di mesjid dibawa ke forum ilmiah.
"Nah, coba kita sedikit loby ke para ibu-ibu dan oengurus mesjid. Kita lakukan FGD nya di mesjid aja?" Rien mencoba memberi ide.Walau tetap keukeuh dengan format FGD nya.
"Rien, kamu itu jangan ngaco atuh. Mesjid itu tempat suci, tempat sholat, mengaji.Bukan untuk kegiatan FGD.Makanya pengajian aja acaranya.Mengundang Kiyai siapa kitu tah. Reni membantah. Nampak merah padam raut mukanya.
"Iya, pamali Rien." para perwmpuan muda lain menimpali.Kompak.
"Pokok nya acara ini FGD, jangan diganti pengajian dong. Tujuannya agar para perempuan disini faham seperti apa pentingnya pengetahuan dan pendidikan kaum perempuan.Iya kan?" Rien tetap ngotot.Nada bicaranya sedikit menurun. Melihat hanya dia seorang yang keukeuh dengan tema hari ibu.
Rien terdiam. Membiarkan teman-temannya mengambil keputusan. Rien tak mau juga ngotot jika hanya dia seorang yang setuju idenya. Ingatannya melayang, membayang Adel yang dapat menadi partner. Jikalau tak setuju, Adel selalu mencari jalan tengah untuk solusi. Kali ini hanya ada jadi atau tidak sama sekali. Agh, mulai lagi. Rien menepis rasa, mencoba kembali hadi ditengah perkumpulan teman-temannya yang tengah asik melanjutkan musyawarah.
***
Bip bip bip. Gawai Rien beberapa kali berbunyi. Rien mengabaikannya. Masih terus berkutat dengan bejibaku pagi hari. Hingga jelang sore. Tien baru menelaah gawainya. Dibukanya satu persatu. Tercenung dan berirai air mata. Satu notifikasi FB membuatnya sesenggukan.
Teruntuk Tetehku 'Rindu'
Mendung pagi ini sengaja sekali menggodaku,
Menghentikanku dari deretan rapi kata perkata dalam genggamanku,
Ah, jelas sekali ia merayuku untuk memutar kembali masa masaku bersamanya,
Bersisian, bergenggaman,
Lembut, menelusup,
Baiklah, aku tak pernah keberatan mengenangnya,
Selintas, hingga sesak berjejalan,
Berkejaran dengan detik yang aku tahu ia tak pernah protes berlalu,
Lekat di benakku,
Dulu,
Mengenalnya tak pernah kuduga,
Ia datang bersama warna yang kemudian jadi cerita,
Di tengah musim kelasku yang riuh,
Pertamakali ia hadir dengan gerak lurus berubah beraturan,
Aku tak begitu memperhatikan apa yang ia jelaskan,
Di benakku hanya bermain warna dan tanya,
Kenapa ungu dan biru?
Ditambah pula abu dan hitam, juga kuning,
Ah, aku sontak terkejut, kenapa ia tiba – tiba bertanya disaat aku asyik menebak ditengah ia sedang menjelaskan? Aduh,,,
Bersama dengan bejubel tanyaku tentang kenapa pakaiannya warna-warni sekali?
Mengalahkan pelangi,
Dengan kerudung biru, baju ungu, rok hitam, kaos kaki abu?
Tapi yang lebih menggodaku bukan itu,,,
Adalah dolphin kuning itu yang tersemat di biru kerudungnya, kuning.
Sama dengan yang aku kenakan dikerudungku,
Kok bisa sama ya?
Ini bukan kebetulan yang biasa.
Minggu berselang, menyulam tahun,
Entah mengapa aku tak melihatnya lagi ditengah riuh kelasku,
Hingga aku kembali berjumpa dengannya,
Kali ini tanpa dolphin namun masih dilingkup gerak lurusnya, berubah beraturan,,
Ah, tentulah ia ahlinya.
Seperti halnya perasaan, selama apapun kita menunggu akan selalu spesial dan berharga sampai kapanpun, demikian dengan berkawan, sahabat sejati.
Waktu jugalah yang menghantarkan dolphin hingga kangguru, ya, aku rindu,,
Denganmu aku tentram,
Darimu aku dapat belajar banyak, banyak menimba ilmu,
Kau selalu rela hati mengajariku, membimbingku,
Tentang apapun saja yang aku tak tahu,
Meski sebetulnya kau selalu merasa tak sedang mengajariku,
Aku rindu menguntit tiap langkahmu,
Menikmati waktu dengan berselonjor kaki menunggumu selesai dari satu ke satu materi lainnya,
Mengamatimu hingga aku hafal arti dari setiap gerak-gerikmu,
Walau aku hanya memperhatikanmu dari jauh, dan itu keren!
Pada banyak  kesempatan,
Aku selalu suka kau ajak kemanapun kau pergi,
Dari mengisi materi hingga berseri-seri menapak kaki ;
ngabolang
Kau selalu memiliki cara untuk menjelaskan sesuatu padaku, dan aku suka itu,
Meski sebetulnya tak selalu paham,
Teteh,
Terimakasih untuk tak pernah mengabaikanku,
Untuk sabarmu menghadapiku,
Untuk sayangmu selalu memotivasiku,
Untuk do’a-do’a mu yang selalu memelukku,
Entah itu disibukmu atau bahkan dalam lelapmu,,,
Teteh,
Hari ini tiga puluh enam tahun yang lalu,
Senyum dan tangis bahagia menyambut hadirmu dipenuhi do’a do’a, dalam lengking tangismu
Meski aku tak tahu seperti apa kau waktu itu,
Aku bahagia memilikimu dulu, kemarin, saat ini, esok dan semoga sampai Jannah-Nya,
Happy Milad Tetehku sayang,
Do’aku selalu kuhantarkan padaNya, tak hanya dihari ini, pun dengan hari-hariku yang lain, melesat
Semoga Alloh memperkenankan segala bentuk do’aku,,
Ah, sudah ya! Aku sesak.

*te2h, kangguru itu cantik sekali menggantung di ranselku, juga tersemat indah dikerudungku,,
Tenggarong, 05.01.2017
00.39 WITA
Adel Edelweis.
***
Nie_Noor nama pena dari Neni Nurachman. Penulis adalah Guru SMA Pesantren Cintawana Kab.Tasikmalaya.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Me Time Versi 2