Kepo dalam Senyap

Oleh: Neni Nurachman

"KIRI DEPAN!STOP" Aku menghentikan angkot.
Sekolah yang kutuju lumaha 300 km lagi. Mampir dulu toko. Niat beli roti dan minum. Mengganjal perut sebelum segerombolan nasi masuk lambung.

Jelang shalat jum'at pelayan sudah berangsur istirahat sebagian. Penjaga kasir masih berada di arenya. Septrtinya telah buru-buru. Nunggu diganti pegawai perempuan. Walau bel kunjung datang. Layanan kasir lumayan lama.

"Maaf Bu, sedang ada gangguan." Ujdrnya. Senyuman terlatih mengembang, kedua telapak tangan menangku di depan dada. Punggungnya sedikitembungkuk.
"Ga Apa-apa." Jawabku, sedikit melirik ke kiri dan kekanan.

"A, yang itu satu!" Seorang pemuda menunjuk deretan barang yang akan dia beli.

Walau memakai pakaian kaos dan celana panjang katun. Terkaanku usianya ya anak SMA. 'Tapi nggak mungkin anak SMA, lha masih jam sekolah behini' Pikirku. 'Bisa jadi anak itu baru lulus SMA' Berkecamuk lagi suara-suara dalam kepalaku.

"Bukan yang mgrah A, itu yang bungkusnya biru." Pintanya, sedikit lebih keras dia berucap.

Kebiasaan, penasaran atau kepo. Aku menatap lekat bemda yang dia beli.
"What?!" Mataku melotot. Untung terhalang lensa hitam kacamataku.

Ku menatap lekat pemuda itu. Parasnya sangat tidak pas untuk membeli bemda iti. 'Apa iya dia membeli barang itu? Di usia yang sangat belia?' Batinku meracau.

Terlihat dia celingukan. Rikuh dipandangi seorang Emak sepertiku. Antrian kasier sedang perbaikan mebuatnya tambah gelisah. Kedua lengannya melebar, hingga semua jemari menutupi benda yang dia beli.

'Bisa jadi dia nikah muda , lalu tak mau punya momongan dulu karena sedang kuliah. Hingga dia harus membeli alat kontrasepai itu' Kali ini berisik di hati mengarah agar aku tidak berburuk sangka.

'Atau katakanlah dia disuruh om atau kakak atau orang tuanya untuk membeli alat kontrasepsi itu.' Sangat berisik ocehan dalam hati ini. Tetap merasa tidak tepat jika anak itu membelinya. Efek kepo dalam diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan