Gagal Fokus

Langkahku buru-buru, seperti biasa. Kedua tangan membawa tumpukan buku dan berkas. Tepat di depan pintu kelas X IPA-1, aku urung masuk. Tiga patas yang tak asing menyapaku.

"Hai! Ibu! Apa kabar?" Histeris dan sumringah ketiga pemuda itu.

"Ngqpain nongol di sini? Mau dikasih PR fisika lagi?" Selorohku.

Mereka terbahak. Ketiganya tampak lebih subur, dibanding empat bulan lalu, ketika masih berseragam putih abu.

"Aku jadinya ambil Kesmas bu, di STIKES" Pemuda paling sehat itu berbagi bahagia.

"Saya mah nyari kerja dulu we, Bu. Gak apa-apa kan?" Lelaki yang paling mungil bercerita, tetap ceria.
"Nah, kalau saya di UIN Bandung Bu, beasiswa. Program Tahfidz, Alhamdulillah." Notabene murod paling nyantri di kelasnya waktu itu, tak keinggalan bicara.

Aku, dan ketiga puda itu tenggelam melepas rindu. Walau hanya sekitar lima menit. Aku pamit, mengangguk saja. Tanganku tidak kosong. Tanpa peduli lingkungan lagi, aku masuk kelas. Seketika kelas senyap.
"Lho, Bu?" Guru perempuan muda nan jelita kaget. Dia telah berdiri di depan kelas memulai pembelajaran.

Ku mengernyit, "ini IPA dua kan?"
"BUKAN, INI IPA SATU." Kompak sekali mereka.

"Oh, maaf!" Aku mengaggukan kepala, pamit pada mereka yang ada di kelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan