Pelangi Belah Ketupat


Oleh: Neni Nurachman

Dia tertegun,  merenung. Hatinya belum berani mengutarakan hal ini. Sepulang tarawih malam ini. Tarawih pertama dalam hidupnya, pengalaman unik,  dan tentu bulan Ramadhan pertama setelah pernikahannya. Perempuan muda itu turut tinggal bersama suaminya, di sebuah rumah mungil area perumahabun. Walau baru mengontrak.

Suaminya belum tahu apa yang dia lakukan tadi di mesjid. Yuli, perempuan yang sedang kebingungan, tetap duduk, masih berfikir kata yang baik dan sopan untuk bertutur pada suaminya. Dia putuskan,  untuk membicarakan esok hari saja. Momennya kurang pas jika diobrolkan sekarang ini. Dia bergegas menuju dapur. Memasak untuk persiapan sahur pertama, di rumah ini. Seadanya dengan hidangan request sang kekasih. Biar dihangatkan nanti jelang makan sahur.

Malam berlalu. Tidur perempuan muda ini tak nyenyak. Bukan hanya karena sahur malam pertama di bulan Ramadhan yang dia lalui bersama sang suami. Dia masih memikirkan kalimat yang tepat untuk berbecara esok hari. Hingga di terlelap larut malam, pijiran itu menghantui alam bawah sadarnya.

"Mas, boleh aku mengatakan sesuatu?" Yuli mencoba membuka perbincangan.

Setelah dia selsai membereskan rumah mungil, bersama-sama berbagibtugas demgan suaminya. Lelaki yang menjadi imam hidupnya nampak santai, membaca buku di ruang depan. Hari ini dia tak bekerja,  mendapat dispensasi libur hari pertama di bulan Ramadhan.

"Iya, boleh,  apa sih yang nggak boleh?" Godanya. Dia meletakan buku di atas meja. Lalu menatap Yuli.

"Mas, tahu kan kalau aku melaksanakan tarawih itu 11 rakaat. Aku baru tahu,  kalau di meajid di perum ini berbeda." Yuli berhenti sejenak. Menyiapkan jalimat berikutnya.

"Lalu? Mas juga nggak tau, kalau sebelumnya tau,  Mas akan bilang ke kamu, Dek." Ujarnya,  membuat sedikit sumringah hati Yuli.

"Ahirnya, aku semalam setelag 8 rakaat,  mundur ke baris paling belakang. Dan menunggu tiba 3 rakaat witir. Menurut Mas, aku shalat tarawih di rumah aja atau di mesjid?" Aku menelisik.

"Ya di meajid saja,  jika sudah 8 rakaat,  Adek pulang duluan aja. Witir di rumah. Kan bisa dipakai tadarusan menunggu Mas pulang. Maaf ya, nggak sengaja kok Mas nyari perum kontrakan ini. Takdirnya mesjid di sini, sama dengan Mas." Jawaban yang membuat Yuli lega.

Sebelum ijab kabul di depan penghulu. Hal ini yang memang alot diperbincangkan. Daat taaruf dulu, perdebatan terkadang tak menemui ujung kesimpulan. Perdebatan itu, membuat mereka berdua banyak membaca dan berdiskusi dengan guru ngaji masing-masing. Dan ternyata, guru Yuli dan suaminya adalah sahabat. Sahabat berdebat di masa muda. Sahabat memajukan umat setelah tua. Memajukan dengan jalan masing-masing. Bersinergi dalam perbedaan keduanya.
*****

Awal bulan Ramadhan kali ini bersama-sama. Hasil rukyat dan hisab sama. Otomatis Yuli dan Mas Bram,  suaminya, sahur pertama bersama-sama. Beberapa hari lagi idul fitri akan tiba. Yuli menatap kalender di meja. Tanggal merah pertanda idul fitri ada dua. Keterangan kecil tertera, keduanya kemungkinan jatuhnya tanggal 1 syawal. Sementara Yuli, yakin dengan majlis hisab ormas yang selalu dia ikuti. Telpon kawannya membuat dia mengamati dan melingkari kalender mejanya.

" 1 Syawal tahun ini bertepatan di hari jum'at. Tetapi, Mas Bram tentu menunggu hasil rukyat di hati jum'at. Jika nampak aku akan lebaran pertama bersama Mas Bram,  bersamaan. Kalau tak terlihat hilal, lebaran pertama ini berbeda dengan suamiku." Yuli berceloteh,  menjawab telfon dari teman aktifisnya.

"Iya, aku dan Mas Bram sud ah alot berbincang sebelum menikah juga. Jangan terlalu hawatir gitu ah." Sahut Yuli lagi. Dan menutup telpon dari kawannya.

Barusaja telpon gemggamnya diletakan dekat kalender itu. Melodi lagu grup band Letto terlantun kembali. Pertanda telpon masuk. Kali ini ibunya Yuli yang telpon.

"Assalamualaikum, apa kabar Mamah? Maaf dua hari ini Yuli nggak neloon Mamah." Sapanya.

Lalu Yuli menyimak. Topik yang sama dengan kawannya tadi. Perihal lebaran tahun ini.

"Iya,  Mah. Mas Bram sudah faham tentang ini." Ujar Yuli.

"Kamu lebaran pertama mau dimana? Di rumah Mmah atau di ibu mertua?" Tanya Mamah. Jelas pertanyaan yang penuh harapan,  bahwa jawaban Yuli akan di rumah ibunya.

"Yuli, belum rembugan sama Mas Bram. H minus 3, Mas Bram baru dapat cuti. Kalo Yuli, para mirid privat udah pada berhenti minggu lalu,  Mah." Yuli menjawab.

Harapannya memang bisa mudik pertama ke rumah orang tuanya. Secara domisili, letaknya memang lebih dekat. Jika mudik ke rumah orang tua suaminya,  tentu akan melewati dulu kampung halamannya. Dari Bandung mudik ke Kebumen. Ya melewati Tasik dulu.

"Iya, Mah nanti dikabari lagi,  Yuli nelpon Mamah. Assalamualaikum." Yuli menutup perbincangan telpon.

Hari berlalu. Empat hari lagi jelang idul fitri. Perlengkapan mudik sudah Yuli persiapkan. Beberapa potong pakaian,  untuk satu minggu. Yuli menanti hari terasa lama. Padahal,  ya biasa juga suaminya pulang jam 5 sore sampai rumah. Begitu gelisah,  karena sore ini akan dibincangkan. Mudik pertama ke rumah orang tua siapa. Kebumen atu Tasik.

"Assalamualaikum. Wah aroma masakannya udah bikin perut tambah keroncongan ini." Bram masuk,  tak terdengar Yuli.

"Mas ini,  bikin aku kaget." Bahu dan bada Yuli tersentak.

"Makanya, Adek jangan ngelamun dong." Bram duduk di ruang tengah. Setelah berganti pakaian.

Nampak letih di raut wajah Bram. Yuli urung membicarakan perihal mudik. Dia kembali merapikan dan mempersiapkan utuh sajian buka hari ini.

"Dek, menurut Adek, mudik kali ini mau ke man?" Bram memulai pertanyaan. Yuli pun lega. Suaminya ternyata memikirkan ini juga.

"Kalau aku ya inginnya ke rumah orang tuaku, Mas." Yuli sumringah.

Bram tersenyum,"Mas juga ya maunya ke rumahorang tua Mas. Perintaan si Mbok juga begitu." Ujarnya.

"Terus gimana dong? Jika 3 hari di rumahku lalu 3 hari di rumah Mas,  gimana?"Yuli mencoba memberi solusi.

"Apa nggak kecapaian? Tasik dan Kebumen bukan jarak yang dekat. Lagipula. Kita nggak membawa kendaraan. Motor kantor nggak Mas bawa mudik. Walau memang diizinkan. Terlalu lelah jika mudik pakai motor. Kita naik bis atau kereta aja mudiknya,  ya Dek?" Tuturnya panjang lebar.

"Aku ngikut aja Mas. Masalah mudik pakai motor atau umum. Tapi, ke mana kita akan mudik?" Kembali Yuli bertanya.

"Bentar lagi magrib,  nanti abis tarawih kita bincangkan. Mas mandi dulu ya Dek?" Bram bergegas. Melepas penat seharian,  dengan membersihkan diri.

Yuli pulangbtarawih duluan. Melanjutkan 3 rakaat witir di kamrnya. Lalu tadarus. Menanti kepulangan suaminya dari mesjid. Beberapa halaman dia lalui. Hingga langkah yang dia kenal selama 8 bulan terahir ini membersamainya.

"Assalamualaikum," Bram masuk rumah.

"Waalaikumussalam," Sahut Yuli.

"Kita lanjut bincang permudikan,Dek. Mas tahu,  Adek udah nggak sabar." Senyumnya melebar kali ini.

"Jadi, gimana Mas?" Yuli benar-benar tidak sabar.

"Mas, tadi siangbudah berbincang sama si Mbok. Mas tahun ini mudik ke Tasik dulu. Ingin tau, bagaimana rasanya lebaran di rumah mertua." Bram menjawil pipi Yuli.

"Tapi, beneran nih Mas? Nggak pakai diundi dulu gitu macam arisan? Biar adil." Yuli menawarkan solusi. Walapun hatinya mengembang, suka cita karena keputusan suaminya.

"Meskipun keputusan mudik kita bukan judi. Tapi Mas nggak srek kalau keputusan ini di undi." Ucapnya, rautnya sedikit muram.

"Mas lebih meilih menyenangkan hati istri yang menjadi landasan keputusan ini." Lanjutnya, menatap Yuli yang masih larut dalam kegembiraan.

"Yuk kita siapkan, mudik besok setelah sholat shubuh." Ajaknya.

Keduanya mengepak semua barang yang akan di bawa mudik. Mudik ke Tasik. Membuat Yuli asik. Canda keduanya selalu ada di tengah perdebatan barang bawaan yang akan di masukan koper.

"Nggak usah lah terlalu banyak,  Dik. Di rumah mu kan masih ada oakaian ganti. Banyakin aja pakaian Mas. Kan nggak ada oakaian di sana." Bram mengeluarkan sejumlah pakaian Yuli.

"Adik bawa dua potong saja, tas kita kecil. Ribet membawa pakaian banyak. Nentengnya nanti berat." Bram kembali memisahkan.
"Mukena ini juga, kan ada d rumah mu Dik?" Lanjutnya.

"Mas ini, lebaran kan tiap hari ganti pakaian. Walau nggak baru,  setidaknya terbaru selama setahun ini." Yuli kembali memasukan beberapa potong pakaian.

Keduanya terus mengepak, hingga larut. Ahirnya dua tas ransel yang mereka siapkan. Ransel yang biasa di bawa kerja. Tas Bram juga Yuli. Lelap keduanya,  hingga bangun sahur mepet hpir imsak. Lepas sholat subuh, keduanya bergegas naik bis menuju kampung halaman Yuli.
*****

"Yul, ayo temani Mamah ke pasar. Tentu hati ini akan penuh di sana." Ibunya Yuli mengajak anak perempuan.

"Iya Mah, Yuli pamit dulu Mas Bram." Yuli bergegas. Mencari sosok suaminya di belakang rumah. Belepotan lumpur. Dia membantu Bapak memanen ikan di kolam. Tentu bercanda sama kedua adik Yuli, anak laki-laki kelas 5 SD dan 3 SMP.

Hari ini semua penghuni rumah sibuk mempersiapkan lebaran. Beberapa bumbu dan persiapan lain belum tersedia. Mamah dan Yuli berjalan kaki menuju pasar. Pulangnya mereka naik becak. Terlalu banyak barang yang di bawa. Berat jika dijinjing oleh Yuli dan Mamah.

Mamah dan Yuli sibuk di dapur berdua. Sesekali Bram mengamati aktivitas kedua perempuan itu. Semwntara kedua adik Yuli bolak-balik memenuhi request sang Mamah. Membeli ini dan itu ke warung. Mengantar ini dan itu ke rumah yang lain. Bapak menggidok ketupat di luar. Menggunakan tungku darurat yang mendadak dibuat.

"Dek, disini sholat Ied nya di mana ya?" Bram yang sesekali membantu Yuli dan Mamah, bertanya.

"Di lapangan samping madrasah,Mas. Sekitar 10 menit jika berjalan kaki dari sini." Tanpa menoleh,  Yuli berkata.

"Ada juga yang di mesjid,  ke arah timur,  lumayan jauh. Sekitar 300 meter dari rumah kita." Mamah menambahkan informasi.
Yuli belum faham ke mana arah pertanyaan Bram. Malah Mamah yang mengerti.

"Mas Bram,  mau sholat Ied bareng kita kan?" Yuli menoleh.

"Mas boleh kan, sholat Ied nya ke Mesjid itu? Jalau Adik mau ke lapngan,  nggak apa-apa,  monggo." Ujarnya,  tersenyum.

Yuli baru faham maksud pertanyaan Bram. Bahwa ada hal yang berbeda antara dia dan suaminya.

"Iya Mas,  nggak apa-apa."Sedijit datar,  Yuli berharap bisa di temoat yang sama melakukan sholat Ied.

"Mas belum tentu juga besok lebaran Dik. Lha wong nanti magrib bari bisa dilihat hilalnya. Nampak atau tidak." Ucap Bram.

Mamah dan Yuli hanya saling pandang. Memahami apa yang dimaksud Bram. Bertiga terus saja mempersiapkan hidangan buat besok. Hidangan untuk sehari. Karena hari lebaran sibuk dengan anjang sana,  anjang sini. Berkunjung dan ersilaturahim antar tetangga dan saudara.

"Dik,  Mas bisa diantar ke mesjid itu? Malam ini Mas masih melakukan tarawih. Hilal tak terlihat,  dan sidang isbath menentukan bahwa Idul Fitri hari sabtu." Bram berkata pelan.

Yuli termenung. Kali ini benar nggak tahu mengatakan apa. Antara Yuli dan suaminya telah sangat memahami. Namun, bagaimana dengan Bapak, Mamah dan keluarga? Lama Yuli menahan kata.

"Iya, Mas, nanti diantar Adiku ya? Mamah masih butuh bantuan di dapur,  Mas." Ahirnya Yuli menjawab.

"Iya, nggak apa-apa. Nggak usah ditungguin,  diantar saja." Jawab Bram.

Bram diantar kedua Adik Yuli bergegas menuju mesjid. Manunaikan tarawih terahir. Bersama beberapa baris di meajid,  yang memang masih menunaikan tarawih malam itu. Gema takbir terhenti berkumandang sejenak. Hingga jam 9 malam. Menghargai bagi muslim yang masihbtarawih juga tadarus. Lepas jam 9, kumandang takbir kbali bergema. Hingga subuh.

Yuli membangunkan dan menemani Bram sahur. Meski dirinya tak sahur. Yuli langsung merapikan dan menata hidangan. Kemudian bersiap bersama anggota keluarga lain menuju lapangan. Menunaikan sholat sunnat Iedul Fitri. Bram menunghu saja di rumah. Dan melanjutkan puasa.

Sepulang solat Ied,  semua anghota keluarga saling meminta maaf. Termasuk Bram. Bedanya,  Bram tidak ikut menyantap hidangan kali ini. Semula Yuli juga ragu untuk menjalani lebaran kali ini. Bram memberi kekuatan padanya. Bahwa berbeda itu anugrah. Bram memberi motivasi ke Yuli,  agar tidak usah risau dengan semua ini. Karena dari sebelum menikah sudah dibahas panjang lebar antara Yuli dan Bram.
Ketika keliling berkunjung antar saudara,  Bram ikut. Tentu tidak menyantap apa pun. Yuli dan kedua orang tuanya tak menjelaskan bahwa Bram masih menjalani shaum. Bram sendiri yang mengatakan ke semua famili. Tentu dengan bahasa dan kelakar dia.

Keesokan harinya, Bram menunaikan sholat sunat Idul Fitri,  di mesjid itu. Yuli sekeluarga merayakan kembali. Memasak kembali,  seperti biasa di hari raya. Kali ini mempersiapkan untuk Bram. Perbedaan membuat indah kehidupan. Seperti pelangi, menjadi indah karena aneka warna menghiasi. Menjadi indah karena setiap warna berada digarisnya dan melwngkung kompak di atas langit.

*Diikutkan dalam 30 Day Challange Writing

** gambar dari www.google.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan