Kotak Kayu Klasik
Oleh: Neni Nurachman
Gong bergaung teratur. Diantara alunan nada perangkat degung lainnya. Nyanyian sunda klasik bertubi memanjakan pendengaranku. Menikmati setiap dentang kecapi. Sinden belia berulang dan estafet melantunkan nada mengiris hati.
Sesosok berkelebat di pelupuk mata. Tatapannya seolah nampak, tajam menusuk jantung. Senyumannya seperti nyata menggetarkan gelora jiwa. Belaian tangannya serasa mengelus rambutku. Semua serasa nyata. Dia hadir diantara semarak nada sunda.
Hari ini, meski kuning langsat kulitnya tenggelam dalam usia senja. Tetap bersih, apalagi rona wajahnya. Terpancar berbuah usapan wudhu setiap saat.
"Nela, ambilkan kotak di dalam lemari. Di rak paling bawah ya." Perempuan tua itu terbata, dibalik desah nafas tersenggal.
"Baik, Nek. Sebentar." Aku bergegas, mencari benda yang diminta Nenek.
Aku hampiri lemari jati, berukir jepara. Sedikit berdebu. Tiga bulan tak pernah tersentuh kemoceng. Semenjak nenek sakit, entah sakit apa. Setiap dokter datang, memeriksa nenek, tak pernah dia mengatakan apa penyakit yang di derita nenek. Apa dokter itu merasa riskan mengatakan segala yang di derita nenek kepada gadis belia, yang baru saja balig?
"N.e.l.a..."
Suara parau terdengar kembali.
Aku meliriknya, nampak nafasnya makin tersengal. Aku segera mengambil kotak kayu itu. Didekatkan ke samping tubuhnya.
"m.i.l.i.k.m.u." suaranya setengah berbisik.
Tangannya menggenggamku, lemah.
Aku erat memeluknya. Entah apa yang harus aku perbuat. Memanggil tetangga atau para paman yang sedang berada di tempat kerjanya mereka? Atau harus bagaimana? Aku membisikan beragam do'a, ayat-ayat kitab suci yang ku hafal. Tak banyak memang. Kuucap berulangkali, dibisikan ke telinga kanan nenek. Makin tersengal nafas nenek. Makin kalut, aku bisikan dua kalimah syahadat bergantian dengan takbir dan tahlil.
Burai air mataku tak tertampung lagi dipipi. Sesenggukan, tangisku tertahan lantunan dzikir. Tanpa henti dibisikkan padanya. Aku erat menggenggam tangannya. Kian lama melemah dan dingin. Hingga tanggannya tak dapat menggenggamku lagi. Sinar nampak di wajahnya. Tersenyum dalam hembus nafas terahir. Meninggalkanku dan sebuah kotak kuno.
Aku terperanjat. Terbangun dalam sunyi. Kusingkap tirai, nampak remang lampu bersaing dengan temaram sabit. Dentang jam terdengar satu kali. Aku menarik nafas dalam. Melepas galau dari sebuah mimpi.
Menggenggam tangan nenek, jelang dia wafat. Selalu menghiasi lelap tidurku selama berbulan ini. Aku beranjak melepas kantuk. Mungkin nenek ingin aku mendoakannya dalam setiap gerak tahajud. Atau mengingatkanku untuk melakukan ibadah itu, setelah sekian tahun aku tak pernah lagi melakukannya.
Langkah terhenti, saat memandang sebuah kotak kuno, bertengger di atas lemari pakaian. Di sudut kamar kontrakanku. Perlahan aku mengambil kotak itu. Kutiup debu yang menebal. Membuatku terbatuk dan bersin. Semenjak kepergian nenek, kotak itu belum sempat aku buka.
Terlalu luka hati ini, setelah nenek dimakamkan. Aku diminta oergi oleh semua anak-anak nenek. Aku menuruti saja, mereka ahli waris sah dari nenek. Aku hanya anak yang dibesarkan saja. Yang diambil dari sebuah panti asuhan. Setidaknya itu cerita dari semua paman.
Kubuka perlahan kotak kuno itu. Sebuah amplop agak tebal. Berwarna putih kecoklatan. Tertutup rapat, direkat lem. Perlahan aku membuka amplop itu. Ada rasa tak menentu bergolak. Entahlah, apa karena baru saja nenek menemuiku dalam mimpi? Aku nikmati setiap debaran ini. Membayang wajah nenek tersenyum menatapku. Seolah bergembira karena aku telah membuka amplop coklat itu.
Aku terbelalak. Membaca semua isi amplop itu. Aku genggam erat sebuah kalung emas. Berliontin batu berbentuk oval, berwarna biru berkilau. Ku tatap foto klasik, sepasang suami istri muda, membopong bayi perempuan berambut lebat, seperti rambutku.
*Sumber gambar www.google.com
** dimuat di gurusiana.id
ceritanya bagus...
BalasHapusJadi penasaran kelanjutannya..
Isi amplopnya apa? Nela anak kandung dari siapa? anak kandung dari pengusaha kaya kah?
"Burai air mataku tak tertampung lagi dipipi..."
BalasHapusJarang banget denger kata "Burai". Menarik pemilihan diksinya. Aku suka! :))
Keep writing!
www.iamandyna.com