ITEUNG MILANGKALA

Oleh : Nie Noor*)

Terlalu terik matahari memapar wajah Iteung. Dia berhenti sekedar melepas lelah di serambi Kaum. Sepulang bekerja, Iteung tak langsung menembus panas menuju rumah. Dia memilih menikmati semilir angin ditengah hiruk pikuk alun-alun kota kecil ini. Meski tak sesegar angin sepoi di halaman rumah, tetap bersandar dan melepas lelah. Setidaknya keringatnya menguap sedikit.
Sesekali menanti getar HP miliknya. Namun setelah sekian lama dia beristirahat, tak jua masuk telpon atau sekedar sms masuk dari suaminya, Abah Kabayan.Tumben, biasanya suaminya meminta menanti di Kaum dan pulang bersama. Berharap sedari pagi ada telpon dari suaminya, atau sebait puisi romantis. Atau tiba-tiba suaminya menjelma di depannya kini dengan setangkai mawar merah. Iteung hanya melamun saja. Hingga satu jam dia selonjoran, yang diangannya tak jua datang. Di PHP dengan lamunannya sendiri.
Setelah kumandang adzan dan iqomah berlalu, Iteung solat ashar di Kaum itu. Usai solat, masih berharap ada pesan atau telpon masuk. Lama dipegang dan berkali dipandang, HP jadulnya tak jua berdering. Ahirnya Iteung naik angkot, di jam setelah asar,sesuai jadwal keberangkatan dari terminal menuju desanya.
"Assalamualaikum" Tanpa menunggu jawaban Iteung masuk rumah.
"Mbuuuuuu" Ade, putri bungsunya menyerbu.
"Mana Ujang, De?" Ambu mengabsen si cikal.
"Ujang berangkat TPA, ah ambu mah,Ujang ditanyain, Ade mah ga ditanyain." Ade merajuk dan sedikit cemberut.
"Aeh, Ade kan ada di depan ambu, Ujang mah ga ada, jadi ambu nanyain ke Ade. Ade belum berangkat TPA?" Iteung mengecup kepala Ade.
"Nunggu ambu dulu datang, nah sekarang Ade TPA ya mbu. Assalamualaikum." Ade pamit.
"Eh, oleh-oleh nya nanti ya mbu, sepulang TPA dimakannya." Ade berteriak dari halaman.
Iteung tercenung, lupa membeli kue pesanan anak-anaknya. Iteung bergegas ke warung terdekat. Membeli beerapa biskuit untuk kedua anaknya. Iteung heran, kenapa Abah tak jua meneloon pun sms. Di rumah juga tidak ada. Iteung masuk kamar, mau berganti kostum. Seragam kebesaran emak-emak. Daster. Iteung hendak bersiap menuju kantor utamanya.Dapur. Niat menyiapkan makan sore keluarga tersayang. Belum beranjak dari kamar, HP Iteung berdering.
"Hallo, Assalamualaikum Abah." Iteung mengangkat telpon.
"Nyai, sudah masak belum?" Sapa Abah Kabayan di seberang.
"Belum Kang, ini baru mau menuju dapur." Jawab Iteung.
"Eh, ngga usah masak. Kita makan di luuar saja nanti setelah isya ya tunggu akang. Nanti akang ke rumah setelah isya. Begitu ke rumah langsung berangkat." Abah mengomando panjang lebar.
"Baik Kang, beneran nich Iteung libur kantor sore ini?" Sedikit ragu Iteung meyakinkan.
"Iya, maaf akang pulangnya terlambat.Assalamualaikum" Abah Kabayan menutup telpon.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Iteung, walau telpon diseberang telah tertutup.
"Ahirnya, Kang Kabayan ingat juga ini hari spesial Iteung." Gumamnya dalam hati.
Iteung berbunga-bunga. Membayangkan makan malam di sebuah restoran. Temaram lampu nan romantis. Walau tidak berdua, sekarang berempat menikmati romansa spesial malam ini. Iteung mengomando kedua anaknya yang baru pulang TPA. Agar lekas mandi dan memamakai pakaian yang rapi.
Magrib berlalu, Isya pun tiba. Iteung, Ade dan Ujang cepat-cepat sholat Isya. Sebentar lagi abah datang dan akan pergi makan di luar. Itu janji abah tadi sore di telpon. Walau Iteung juga kurang tau, si Abah meminjam mobil siapa. Jika ke kota naik motor berempat, alamat di tilang polantas. Pelanggaran aturan lalu lintas.
"Assalamualaikum." Abah masuk rumah.
"Waalaikumussalam, Abah."Semua serempak menjawab salam Abah.
"Wah...wah...pada rapi semua, Ambu dan Ade cantik pisan, Ujang juga udah cakep. Ada apa?" Abah mengernyitkan dahi.
Melihat gelagat ini, Iteung sedikit ada rasa tak karuan.
"Kan kata abah tadi di telpon ..." Iteung belum menyelsaikan kalimat. Karena Abah mulai terkekeh.
"Oh, iya iya ,hayu atuh kita berangkat!" Abah tak sempat duduk.
Semua keluar rumah, mengikuti Abah. Iteung mengunci rumah terlebih dahulu. Sambil celingukan, Iteung heran, kok ga ada mobil di depan rumah.
"Abah nekad kaya nya , ke kota naik motor berempat." Pikir Iteung.
Benar perkiraan Iteung. Abah nyelah motor nya. Berempat naik motor tanpa memakai helm. Iteung memilih diam saja. Tak banyak bertanya. Mengikuti suaminya, kemana pun arah motor melaju membawa mereka malam ini.
"Eh, sebentar. Ambu pakai tutup mata ya..nanti pegangan yang kuat ya." Seru Abah
Mengikat sehelai kain hitam, menutup mata istrinya. Iteung menuruti saja.
"Mungkin ini bagian romantismenya." Pikir Iteung. Melambunglah hayalan tingkat tinggi di pikiran Iteung. Ade dan Ujang pun tak banyak bersuara sepanjang perjalanan. Biasanya selalu berkicau, jika tidak melucu bersama ya bertengkar. Malam ini tidak seperti biasanya. Keduanya diam, seperti Iteung. Bedanya Ade dan Ujang tak ditutup matanya.
"Sudah sampai, ayo turun. Ambu nanti dituntun sama Ade dan Ujang ya. Tetap ditutup matanya." Seru abah.
Ade memegang tangan kiri Iteung, Ujang memegang tangan kanan Iteung. Bertiga mengikuti Abah.
"Ade, Ujang lepaskan tangan ambu. Ayo duduk duluan." Lagi-lagi abah mengomando.
Terasa terlepas tangan Ujang dan Ade dari genggaman Iteung. Abah menuntun Iteung, hingga duduk.
Ada yang aneh terasa oleh Iteung. "Mengapa tidak duduk di kursi? Biasanya rumah makan kan pakai kursi. Mungkin rumah makan lesehan." pikir Iteung.
Perlahan-lahan Abah Kabayan membuka penutup mata istrinya. Hingga Iteung pun dapat membuka matanya. Dapat melihat kejutan yang dibuat oleh suaminya. Dan tarraaaaa. Iteung terkejut.
Dihadapan Iteung ada Ujang, Ade dan Abah Kabayan. Tersaji nasi timbel, goreng peda, goreng jengkol, sambal goang, daun singkong kukus, kerupuk. Masing-masing diwadahi rantang. Diatas palupuh, di sebuah saung sawah. Saung milik mertua Iteung alias milik orang tuanya Abah Kabayan. Disinari temaram dua buah  oncor bambu. Iteung tertegun.
"Hayu ambu, kita mulai makan nya. Ade, Ujang dan Abah sudah lapar ini." Suara abah mengagetkan Iteung.
"Oh, iya abah hayu." Iteung segera membagikan nasi timbel. Masing-masing satu. Mengisi semua lauk-pauk yang tersaji.
Semua lahap. Temaram lampu oncor sesekali meliuk tertiup angin malam tengah sawah. Hati Iteung berkecamuk. Entah kesal atau geli akan dirinya sendiri. Suaminya tidak salah. Dia mengajak makan diluar. Iteung saja yang terlalu berhayal. Akibat menonton sinetron India mungkin. Tetapi ada tanya di benak, siapa gerangan yang masak semua ini. Iteung , Ade dan Ujang berdandan seolah akan datang ke sebuah rumah makan.
"Abah, ini ada acara apa sebenarnya?" Iteung mencoba memulai, mencari jawaban dari kecamuk pikirannya.
"Oh, ini tadi abah numpang masak di rumah ema. Ini semua abah yang masak. Ya kan hari ini teh Ambu Milangkala. Memberi hadiah yang bagus abah tidak bisa. Ya sudah, abah ajak makan diluar saja. Kan kalau di filem-filem yang diceritakan ambu, seorang suami memberi kejutan dengan mengajak makan di luar. Nah, semoga ambu teh suka, sudah di ajak makan di luar sama abah." ujar abah, sambil mencoel sambel.
Iteung tersenyum simpul. Jika terang benderang akan nampak memerah wajah Iteung. Malu pada diri sendiri. Mengapa seharian ini berhayal terlalu di luar nalar. Terbawa perasaan akibat tontonan sinetron. Suaminya tidak salah, janjinya memang mengajak makan di luar.
"Hatur nuhun abah, ambu sangat suka. Tentu Ade sama Ujang juga senang. Ayo, hatur nuhun ka Abah." Ujar Iteung, sambil mebambah lagi goreng jengkol kesukaanya.
"Nuhunnnn abah," Ade dan Ujang kompak, walau mulutnya penuh makanan.

*) Nie  Noor nama pena dari Neni Nurachman

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan