Alhamdulillah, Bukan Umbrella

Oleh : Nie Noor

Terkesima seisi ruang menyimak pemaparan Profesor dari Jepang itu. Takjub, sesaat audiens sedikit bengong. Dia sisipkan candaan ringan,hingga berapa audien yang memahaminya tergelak. Profesor super keren. Jauh-jauh datang ke Indonesia berbagi ilmu. Demi keinginannya agar yang maju tak hanya Jepang.

Usai tiga jam berdiskusi, penutupan tiba. Setelah selsai acara, tanpa komando audiens mengantri. Ingin berfoto. Bergantian Profesor itu dikerubuti dan berfoto. Inilah budaya Indonesia, always take picture. Atau memang zamannya. Namun tak ada yang salah. Hanya nampak saja profesor lelah. Tapi, termasuk aku, ingin juga berfoto dengan beliau.

Ruangan telah sepi, semua peserta dan panitia telah kembali menuju aktifitas masing-masing. Aku, dan seorang teman berdiri di tangga depan gedung tempat acara. Berbincang melepas rindu. Entahlah baru bersua kali kedua, dalam kegiatan serupa tahun lalu. Erat obrolan kami.

Tiba-tiba profesor di depan mata, ditemani beberapa orang panitia. Mengantarkan beliau, obrolan mereka ringan dan akrab. Tentu dengan bahasa Inggris. Kesalahanku kok menguping ya? Ah, tidak menguping, karena obrolan mereka juga sangat luas. Seputar budaya dan segala hal yang ada di Bandung.
"What the meaning unbrella?" Profesor itu bertanya.

"This unbrella, do you need this?" Jawab panitia, balik nanya.

"Oh, No. I mean a word that you are and the other say, like last when the end of sesion." Paparnya.

"Oh, its not unbrella, but alhamdulillah." tersenyum mba berbaju putih itu.

"What? Umbrellah?" Profesor perlahan mengeja.

"Al ...ham...du...lillah..." Tuntun mba berbaju putih mengeja perlahan.

"Ones more" Pintanya diiringi senyuman ramah.

" Al......ham....du...lillah" Mba berbaju putih sabar mengeja kembali dengan lebih pelan dan jelas.

"Al...ham...du..lillah..." Tiru Profesor.

"Alhamdulillah" Ulangnya lagi dan tersenyum. Bahagia mengucapkan kata yang membuatnya penasaran.

" Thanks, I can say Al..ham..du..lillah" Riang dan melebar senyum profesor.

"Whats the meaning? Sundaness language?" Tetap berdiri, tak jua masuk mobil. Karena masih penasaran.

"The meaning is Thanks God" Ujar mba berbaju putih. " And that is Arabic, not Sundaness." Lanjutnya.

"Oh, I see. The word every moslem say Alhamdulillah, if wanna say Thanks God. Isn't It?" Tanya yang menyimpulkan dari Profesor.

"Yes, ..."semua panitia kompak. Mereka mengangguk menangkupkan kedua telapak tangan. Ya hormat ala suku sunda.

Profesor pun manggut, hormat ala Jepang, kemudian berlalu dan memasuki mobil. Melanjutkan perjalanan keliling Bandung mungkin.

Aku bergumam ke temanku. "Keren itu profesor, beberapa menit mempelajari satu kalimah thoyibah. Kalimah hamdallah."

"Iya tuh, bener-bener keren." Jawab temanku

"Semoga sering-sering mendengar hal-hal yang baik dan benar.Kemudian hidayah menghampirinya. Aamiin." Gumamku dalam hati.

Profesor yang luar biasa ramah itu berlalu menghilang ditelan keramaian kota kembang.

Komentar

  1. Alhamdulillah. Terimaksih Mba sudah memgingatkan utk sering-sering mengatakannya.

    Respect utk orang Jepang yang mau belajar mengerti budaya Islam :)

    Alhamdulillah

    BalasHapus
  2. Penulis hebat ne....hal2 terlewat oleh org lain bisa jd bahan utk tulisan apik.selamat say

    BalasHapus
  3. Makasih mbak dah diingatkan..sy kadang tuh lupa...mengawali dengan bismillah pas udah selesai lupa mengakhiri dengan alhamdulillah...hiks

    BalasHapus
  4. Semoga pak profesor selalu berbahagia setelah mengucapakan hamdalah

    BalasHapus
  5. Orang Jepangnya bahas tentang apa saja mbak ?

    BalasHapus
  6. Orang Jepangnya bahas tentang apa saja mbak ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan