ARTIKEL YANG TERTOLAK
GELIAT AKSI LITERASI
Oleh
: Neni Nurachman
Kemendikbud
mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Salah satu bentuk awal aksi
literasi secara nasional adalah kewajiban membaca bagi siswa selama 15 menit.
Buku yang dibaca bukan buku mata pelajaran. Pembiasaan ini dapat dilakukan
sebelum jam pertama, di pertengahan jam pembelajaran maupun di ahir setelah
pembelajaran selsai.
Keterpaksaan
diawal pemberlakuan amatlah memberatkan para peserta didik, guru dan pihak
sekolah. Namun, apabila siswa telah terbiasa maka akan menjadi karakter,
apabila karakter telah tertanam akan menjadi budaya. Pembiasaan ini tujuan
ahirnya adalah membangun budaya literasi untuk negeri ini. Budaya membaca
hanyalah bentuk salah satu literasi tingkat dasar.
Lima
tingkatan literasi menurut Ferguson (www.bibilotech.us/pdfs/infoLit.pdf).
Kelima tingkatan tersebut adalah literasi dasar, literasi perpustakaan,
literasi media, literasi teknologi dan literasi visual. Literasi dasar yaitu
kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan menghitung. Hasil dari literasi
dasar akan berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan,
mempersepsikan informasi, mongomunikasikan, serta menggambarkan informasi
berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
Literasi
perpustakaan adalah tingkat lanjutan dari literasi dasar. Literasi perpustakaan
dimaksudkan agar memiliki kemampuan untuk dapat mengoptimalkan keberadaan
perpustakaan. Posisi literasi
perpustakaan akan menempatkan perpustakaan sebagai sumber informasi yang
dibutuhkan, baik untuk pengetahuan, penelitian, pekerjaan maupun menyelesaikan masalah.
Sedangkan
literasi media berada dua tingkat lebih atas dari literasi dasar. Literasi media
ini akan terlampaui apabila literasi perpustakaan telah diperoleh. Literasi
media adalah kemampuan mengetahui dan menggunakan berbagai bentuk media yang
berbeda untuk pemenuhan informasi pengetahuan, pekerjaan, penelitian maupun
penyelesaian masalah.
Tingkat
literasi keempat adalah literasi teknologi. Tingkatan literasi ini, kemampuan
yang dimiliki merupakan kemampuan memahami kelengkapan, menggunakan
perkembangan teknoligi untuk mengolah informasi,pengetahuan, pekerjaan dan
menyelesaikan masalah.
Literasi
visual tingkatan literasi kelima. Pemahaman tingkat lanjut antara literasi
media dan literasi teknologi. Pada tingkatan ini pemanfaatan visual, audio-visual
untuk memperoleh informasi, belajar, pekerjaan, penelitian dan penyelesaian
masalah.
Lompatan
literasi terjadi di negeri ini. Literasi media dan literasi teknologi telah
dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Berbagai jenis gawai berteknologi tinggi
telah digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Anak pra sekolah hingga lansia
menggunakan gawai yang selalu terhubung ke internet.
Media
elektronik (literasi visual) menghiasai aktivitas setiap rumah hamper 24 jam.
Sebagian besar menayangkan berbagai hiburan dan berita kriminal. Sedikit
informasi pengetahuan dan nilai pendidikan untuk masyarakat. Sedangkan media elektronik ini merupakan
sumber tontonan yang dijadikan tuntunan. Masyarakat akan meniru apa yang
ditayangkan di media elektronik.
Media
cetak mulai ditingalkan karena dipandang kurang praktis. Alasan serba praktis
apabila mencari informasi dari gawai bertaut internet. Internet dan media
elektronik menyediakan berbagai informasi postitif dan negatif. Media
elektronik banyak menyajikan tayangan yang tidak dipilah berdasarkan usia.
Media internet bahkan tanpa sensor, siapapun dapat dengan mudah memperoleh
informasi baik maupun informasi buruk.
Literasi
media dan teknologi masyarakat Indonesia melompati literasi dasar dan literasi
perpustakaan. Apabila dua hal ini terlewatkan, maka pemahaman memanfaatkan
literasi teknologi dan literasi visual tidak sesuai seharusnya. Hal ini lah tidak
menutup kemungkinan mengapa peringkat literasi Indonesia menjadi ke-65 dari 67
negara yang dinilai.
Aksi
gerakan literasi sekolah bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti
peserta didik (siswa) melalui pembudayaan ekosistem literasi di sekolah agar
menjadi pembelajar sepanjang hayat. Aksi literasi ini adalah peserta didik diwajibkan
membaca buku non pelajaran selama lima belas menit. Peserta didik akan merasa
terbebani apabila hanya disuruh dan melaksanakan berdasarkan kewajiban saja .
mereka hanya akan melakukan saat sekolah dan semasa sekolah. Selsai sekolah, pembiasaan literasi ini akan
ditinggalkan. Maka, aksi gerakan literasi sekolah menitik beratkan pada penumbuhan
pembiasaan literasi. Kemudian penumbuhan rasa kebutuhan literasi. Selanjutnya
akan muncul kebutuhan literasi pada peserta didik.
Hulu
pembiasaan literasi tidak bisa disanggah, memang dari lingkungan akademisi.
Sekolah, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan non formal lainnya.
Gerakan lima belas menit membaca buku non pelajaran hanya gerakan awal untuk
merangsang minat baca peserta didik. Peserta didik pun membutuhkan teladan dari
orang dewasa disekelilingnya. Di sekolah peserta didik butuh teladan dari
guru-guru. Aksi ini sejatinya dilakukan oleh semua siswa dan guru.
Saat
berada di luar sekolah, peserta didik membutuhkan teladan dari orang tua dan
masyarakat. Di rumah, orang tua memberi teladan dan menumbuhkan ekosistem
literasi sehingga peserta didik menemukan iklim literasi yang sama di sekolah
dan di rumah. Apabila di setiap rumah tercipta ekosistem literasi, maka
lingkungan masyarakat pun dengan sendirinya terbentuk budaya literasi.
Keterbatasan
fasilitas dan bahan bacaan buku non pelajaran adalah salah satu kendala
pelaksanaan aksi literasi. Kesadaran untuk membeli buku selain mata pelajaran
di sekolah-sekolah masih belum terbiasa. Dibutuhkan bekerjasama dengan berbagai
pihak untuk melakukan aksi literasi bersama-sama. Kerjasama dengan pemerintah
setempat baik dari tingkatan desa hingga ke pusat.
Perpustakaan
daerah dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk bekerja sama menggerakan aksi
literasi ini. Selain milik pemerintah, ada beberapa daerah yang masyarakatnya
peduli pada budaya literasi. Sekumpulan taman bacaan masyarakat dengan berbagai
kreativitas untuk menumbuhkan budaya baca, bahkan budaya literasi.
Berbagai
even diselenggarakan secara swadaya maupun dengan bantuan pemerintah digalakan
agar masyarakat tergugah untuk menyadari pentingnya membaca. Pemilihan duta
baca dan pegiat literasi di Jawa Barat oleh Gubernur adalah salah satu bentuk
rangsangan kepada masyarakat. Walaupun ini belum tersebar gaungnya ke seluruh
pelosok daerah.
Melalui
kerjasama dengan pemerintah South
Australia, Dinasa Pendidikan Jawa Barat mengadakan kegiatan tahunan West Java Leader reading Challenge (WJLRC).
Beberapa sekolah tingkat dasa (SD dan SMP) ditunjuk untuk menyelenggarakan
kegiatan ini. Dengan berbagai tagihan dan reward
kegiatan ini berhasil menumbuhkan minat baca dan literasi pada siswa SD dan SMP
yang dijadikan piloting program ini. Berbagai
bentuk WJLRC dapat disebar ke seluruh sekolah yang ada di jawa Barat bahkan di
Indonesia. Tentunya dilakukan dengan swadaya tanpa bergantung dan menunggu
bantuan pemerintah.
Aksi literasi tidak hanya dilakukan oleh guru di
sekolah. Butuh dukungan yang sama, dengan perlakuan yang selaras di lingkungan
keluarga dan masyarakat. Peran media elektronik sejatinya turut seerta membuat
informasi untuk menumbuhkan dan memenuhi
kebutuhan literasi.
Komentar
Posting Komentar