REVIEW BUKU : NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2

REVIEW AYAT-AYAT CINTA 2
Karya : Habiburrohman El-Sihrazi
Direview oleh : Neni Nurachman

Jelajah United Kingdom terasa kental dalam setiap plot novel ini. Meski beberapa negara dijadikan plot, Palestina, Saudi Arabia, Madinah, Indonesia. Namun sekitar 80% berada di Inggris. Setiap sudut exotis UK ada di latar novel ini. Hal ini membawa pembaca berpetualang di Inggris. Meski pembaca belum pernah ke Inggris.

Namun narasi latar tempat dalam novel, kurang membawa imajinasi saya sebagai pembaca. Imajinasi buntu dengan kurang rinci dan mungkin kurang dramatis menggambarkan keindahan setiap sudut UK.
Berhubung novel ayat-ayat cinta 1 sudah difilmkan. Pembaca memadukan fisik para pemain film dan ilustrasi tokoh cerita. Pembaca merasa imajinasi terbatas bahkan ada ketidak pasan membentuk tokoh cerita dengan siluet pemeran di film.

Novel ini penuh catatan kaki, memang bagus. Namun karena hampir di setiap lembar ada catatan kaki. Pembaca terganggu dengan menelaah catatan kaki ditengah keseruan novel.

Novel ini bukan sekedar novel, penuh hikmah dan pembelajaran. Kita , pemeluk Islam tercerahkan kembali dengan ajaran-ajaran Islam yang dikemas dalam novel ini. Penulis mengemas dalam bentuk dialog, debat, nasihat, bahkan penyesalan sang tokoh atas kesalahannya. Novel ini adalah karya spektakuler.Novel dakwah, penebar damai untuk semua manusia, apapun agamanya. Penjelasan dalil,hadist, pendapat ara ulama gamblang di kupas. Pembaca tak menyadari bahwa kita sedang membaca kajian kitab dalam sebuah novel. Pemisalan dalam peristiwa real, misal salam kepada non muslim, dan lain sebagainya.

Novel ini menyiratkan muslim dan muslimah ideal. Harus kaya, cerdas, dipercaya dunia,taat beragama, penolong. Digambarkan di tokoh-tokoh sebagai Insan Kamil. Pembaca rasanya tak percaya ada muslim seideal Fahri, Aisha, Hulya, dan yang lainnya. Jika tokoh kurang baiknya pembaca bisa menerima normal seperti realita kehidupan. Namun sosok manusia ideal, sulit untuk berimajinasi bahwa ada banyak manusia yang digambarkan penulis. Tepatnya, ilustrasi alamiah dan kesempurnaan tokoh baik kurang memancing imajinasi pembaca.

Bagian awal ,beberapa judul diawal sempat mematahkan semangat saya menuntaskan novel ini. Sangat baku dan monoton ilustrasinya. Namun adrenalin terpacu saat muncul terkaan teka-teki adanya pengemis dengan suara serak. Saya,menebak apakah pengemis itu aisha yang hilang? Pembaca penasaran dengan terkaan,hingga menuntaskan membaca novel tebal ini. Ini salah satu daya tarik unik. Walau tertebak endingnya, namun liku-liku ke jawaban sangat mengejutkan.
Kematian Hulya terasa dipaksakan. Coba bila ceritanya tabir Sabina itu Aisha ditemukan saat Hulya masih hidup. Pembaca akan memperoleh pelajaran bagaimana intrik dan dinamika poligami. Pembaca menangkap, bahwa penulis tidak terlalu setuju adanya poligami. Penulis seolah-olah menekankan bahwa seorang laki-laki secara naluri hati hanya dapat mencintai satu orang istri pada satu waktu. Tersirat dari alur cerita Fahri menikahi Hulya. 3 bulan lamanya Fahri tidak sanggup memberi nafkah bathin pada Hulya, karena kecintaan dan rasa bersalah pada Aisha.

Dramatis tranplantasi wajah Hulya ke Sabina (Aisha) dirasakan pembaca terlalu imposible. Apakah iya ada yang rela mendonorkan tubuh (wajah) ke perempuab lain? Perempuan yang tinggal satu rumah dengan suaminya? Ini terlalu dramatis. Pembaca merasa aneh dengan alur ini.

Hal lain yang menjadi daya tarik pembaca untuk mengkhatamkan novel ini adalah teka-teki pelaku pencoret mobil Fahri. Pembaca tertipu dengan giringan alur cerita yang mengarah pada Jason. Sedangkan pelakunya ternyata kakak Jason, Keira.
Misteri lain yang menarik, teka-teki Jason yang tak terjawab hingga ahir cerita.Apakah Jason memeluk Islam? Atau tetap dengan keyakinan keluarganya? Ini butuh penjelasan di ahir cerita.

Harapan Pembaca, yang menjadi mualaf adalah Jason, Nenek Catarina, Prof. Carloth, dan Roby Yahudi. Namun, lagi-lagi kecewa. Malah yang menjadi Istri Paman (supir Fahri) yang tak terlalu banyak disinggung dalam alur cerita.

Ini menunjukan, bahwa kuasa Alloh SWT mutlak tentang siaoa saja yang diberi hidayah oleh Nya. Hak periogatif Alloh memberikan petunjuk pada manusia menuju kebenaran Alloh.
Ini mengajarkan juga pada pembaca. Berahlak baik, beramal, menolong harus ikhlas. Tanpa pamrih, meskipun keimanan dan kebaikan sikap yang kita tolong.

Tak kalah membuat pembaca terkesima, romantisme ibadah suami istri. Novel ini mengajarkan bahw Islam itu sangat romantis. Romantis dengan pasangan halal, romantia wajib dilakukan oleh suami dan istri.

Novel ini menunjukan sisi manusiawi nafsu. Namun solusi menjaga pandangan, menghindari maksiat dipaparkan gamblang. Novel ini seperti panduan ahlak untuk pembacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan