HAMPA DALAM RIUH

Oleh: Neni Nurachman

"Udah dong, simpan gadgetnya. Ini saatnya tidur, istirahat dan our time nih." Ujarku manja.

Hatiku sangat iri padanya. Lelaki kekar belahan jiwaku, asik mengusap dan mengelus layar androidnya. Hanya membalas rajuku dengan lirikan nakal, melempar senyuman menggoda. Walau lebih kurasakan macam ejekan tersadis.

Dunia terbalik. Biasanya aku yang selalu diingatkan agar lekas mematikan android. Dia menyarankan tidak berselancar di layar gawai jelang tidur. Sehingga aku yang selalu terganggu dengan ajakan dia untuk larut dalam obrolan ringan. Ritual berbincang bahkan bersenda gurau itu wajib jelang beranjak tidur antara aku dan dia, jauh sebelum keranjingan medsos menimpaku. Juga dia. Semenjak dunia ghaib mengganggu kami, ritual itu tidak terlalu intens. Sekedar pelipur kewajiban saja. Dilakukan sembari masing-masing sibuk dengan gadget.

*****

Selama empat pekan HP rusak. Padahal di pekan itu deretan deadline berbaris. Beberapa kelas online melalui WA, facebook dan telegram berlangsung. Dan semua kelas itu berbayar. Aku sangat kecewa dengan keadaan. Pasrah, semua memang harus terjadi. Bukan salah siapa-siapa. Semua event dan momen hangus. Gegara HP rusak.

"Beli lagi saja, Neng. Ayo diantar." Ujarnya suatu waktu.


"Beneran nih di traktir?"Aku girang setengah mati.


"Akang cuma mengantar saja lah. No budget untuk itu." Dia nyengir, tanpa merasakan kekecewaanku. Tapi aku yakin, dia tahu betapa aku menderita tanpa gawai.

Mulutku terkatup rapat, sedikit maju beberapa centimeter. Ku memilih mengurungkan niat waktu itu, untuk terus merajuk padanya.

Selama empat pekan ini. Segala informasi benar-benar tertinggal. Beruntung masih dalam rentang libur dan cuti bersama. Sehingga memang tidak terlalu menganggu pekerjaan. Hanya beberapa target pribadi yang terbengkalai. Salah satunya adalah target tulisan di beberapa komunitas.

Target membiasakan diri untuk menulis mengalami kemunduran. Aku hampir kehilangan motivasi. Entah mengapa aku lebih terinspirasi jika mengetik draft melalui gawai. Kemalasanku mendapat angin segar untuk tumbuh dan berkembang dalam jiwa. Hingga motivasiku turut error membersamai kerusakan gawai.

Sisi lain, aku merasa terkucil dalam keramaian. Namun ada banyak hal positif kulalui. Kepekaan ke dunia nyata di sekitarku lebih intens. Lebih banyak interaksi langsung dengan teman dan saudara secara bertemu langsung. Silaturahmi lebih terasa hangat dan berkualitas. Ini sisi positif di balik hp yang rusak.

Sekembalinya aneka medsos dapat dibuka, ada kekakuan menerobos semua akses. Semua komunitas diretas kembali. Semua pembiasaan menulis kembali ke titik nol. Inilah cara Alloh membuat aku kembali belajar, memula dari titik nadir.

*Sumber Gambar: www.google.com

Komentar

  1. Wahh dapat sudut pandang yang baik dari HP yang rusak. Pengalaman yang menarik. Nice post, thanks

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan