Aku Selalu Bangga padamu, Mbok!


Oleh: Neni Nurachman

“Mas Danang! Mau ikut Mbokmu apa Bapak?” Setengah
membentak suara lelaki paruh baya di tengah temaram lampu minyak.

Anak lelaki itu menunduk. Ada getar memanas dalam dadanya. Tak kuasa ia menatap bapaknya. Apalagi menjawab pertanyaan yang tak ia fahami. Bagaimana dia harus memilih Mbok dan Bapak. Tidak bisa ia pilih salah satu. Dia makin menunduk. Tangisnya tidak pecah. Isakan dia tahan. Jika meledak tangisnya makin menjadi amarah Bapaknya.

“Mbok ngak apa-apa sendiri, Le.” Perempuan itu mengusap kepalanya. Lembut. Terasa seperti dia meneguk air es teh manis saat dahaga.

Anak itu melirik Mboknya. Lalu menatap ke arah lelaki yang mengajukan pertanyaan. Nanar.

“Aku ikut Mbok.” Bergetar dia menjawab pertanyaan itu.

“Kowe kudu melu Bapak, Le!” Bentak lelaki kurus berambut putih itu.

Tanpa sempat mengemasi pakaian atau buku pelajaran. Anak lelaki itu mengikuti langkah bapaknya. Pergi meninggalkan rumah kayu. Rumah tempat dia bercengkrama dengan ketiga adik perempuannya. Sesekali dia melihat, rimbun pepohonan tempat main petak umpet. Atau sekedar berayun menggunakan ayunan ban karet bekas yang tergantung di dahan pohon mangga.
*****

‘Apa kabar Mbok? Surti, Minah juga Naya?Maaf Danang baru bisa mengirim surat sekarang. Danang mencari alamat rumah dari KTP lama Bapak., saat membereskan isi lemarinya.

Danang sekarang sudah SMA kelas 2 Mbok. Meskipun tidak di sekolah negeri, tetapi bersyukur dapat beasiswa dari tempat Danang bekerja.Danang bekerja paruh waktu di sebuah toko. Danang bekerja dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Pemilik toko sangat baik Mbok.

Setelah aku meninggalkan Mbok bersama adik-adik, Danang nggak bisa melanjutkan sekolah ke kelas 4 SD waktu itu. Danang kembali ke kelas 1 lagi. Karena tidak membawa surat dan beberapa persaratan pindah sekolah. Danang menuruti saja apa yang dikatakan Bapak.

Mbok, Danang tidak faham mengapa Bapak mengajakku pergi waktu itu. Danang ingin bersama Mbok. Menjaga Mbok.Di sini Danang hanya berdua saja dengan Bapak. Masih mengontrak rumah di kota yang sangat jauh dari rumah.Menyeberangi laut dulu.Nanti jika Sekolah danang selsai,akan segera pulang.

Danang selalu ingin kembali ke rumah. Tetapi bapak melarang Danang. Tak mau jadi anak durhaka, Danang menuruti saja. Meski kangen sama Mbok dan Adik-Adik.

Mbok, Maafkan Danang baru kali ini mengirimi Mbok surat. Baru kali ini. Sekarang Danang hidup sebatangkara.Dua tahun lalu Bapak meninggal. Danang bingung harus kemana. Ingin pulang tetapi tidak tahu harus naik dan melewati apa.

Mbok, Danang tetap bangga dan sayang sama Mbok. Mbok yang selalu pergi pagi-pagi dan pulang lepas magrib. Karena Mbok harus mengajar di desa yang sangat jauh dari rumah. Danangdan adik-adik selalu saling membantu.Walau sering berantem, hana rebutan sendal atau kalah permainan.

Mbok, Bapak tidak menjelaskan kenapa Danang harus dipisahkan dari Mbok dan Adik-adik. Bapak selalu mengelak jika Danang minta diceritakan alasannya. Hingga Bapak wafat, Danang tidak tahu alasan kepergian malam itu.
Tapi, Danang tidak mau tahu, Danang hanya ingin pulang. Berkumpul bersama Mbok dan adik-adik. Kerinduan danang dan kekaguman Danang sama Mbok makin menjadi. Tapi
Danang harus sabar menunggu satu tahun lagi agar bisa berkumpul bersama Mbok.

Doakan Danang selalu.Peluk untuk Mbok, Surti, Minah juga Arti.

Tenggarong, Juli 2000
Danang.
***** 

Surti berhenti. Selsai sudah membacakan surat untuk Mboknya. Ditatapnya Minah dan Arti. Ketiga gadis itu merasakan hatinya tak menentu. Bahagia. Ahirnya Kakak lelaki semata wayang mengirimi juga kabar. Ketiganya menatap Sesosok perempuan yang terbaring. Dia baru saja tertidur. Setelah meminum obat. Beberapa hari ini kesehatan perempuan itu sedikit terganggu. Keletihan menjahit pesanan jelang lebaran membuatnya bekerja siang dan malam. Surti dan kedua adiknya Ingin segera mengabarkan kepadanya, bahwa anak sulungnya akan kembali, walau harus menanti satu tahun lagi.

* Sumber gambar : www.google.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan