Menjadi Guru di Era Digital

MENJADI GURU DI ERA DIGITAL

Oleh : Neni Nurachman
Guru Fisika SMA Pesantren Cintawana Kab.Tasikmalaya

*) dimuat di Koran Kabar Priangan rubrik Guru Menulis tanggal 8 Juni 2016

Aneka gawai dan gadget tersusun rapi di kotak kayu, diatas meja guru. Siswa khusu mengerjakan soal-soal ujian. Salah satu teman guru di negeri kangguru memposting gambar di wall facebooknya.
Ini salah satu alternatif pihak sekolah menyikapi dengan bijak. Sekolah tidak melarang membawa gawai atau gadget. Tetapi mensiasati dengan berbagai alternatif mengatur penggunaan gawai oleh para siswa.

Kemajuan teknologi bukan hal yang selalu berdampak buruk. Maraknya berita baik di media cetak maupun media sosial tentang penyalahgunaan teknologi oleh "oknum"  bangsa ini, sangat menohok. Beberapa hal ekstrim muncul. Larangan membawa alat komunikasi ke sekolah sempat mencuat di beberapa sekolah. Hasilnya tidak efektif. Alat komunikasi menjadi kebutuhan pokok setiap individu. Sekolah butih teknik dan strategi untuk memanage bagaimana penghuninya menggunakan alat komunikasi.

Guru, staf dan siswa tak bisa lepas dari gawai dan gadget. Tak jarang saat pembelajaran berlangsung siswa asik menelusuri dunia maya. Siswa saat menjawab pertanyaan dan mendiskusikan masalah, langsung googling. Menjawab PR langsung menelusuri internet.
Siswa pun menjadi pecandu media sosial. Berbagai media sosial digunakan dalam gawai. Siswa dengan teman sebangku mengobrol melalui media sosial berbasis aplikasi internet. Guru dengan rekan yang berada dalam satu ruangan chating dengan aplikasi internet.

Guru masa kini dituntut melek IT. Meskipun tidak seluruh guru mampu menggunakan kemajuan teknologi yang berbasis aplikasi internet. Suka tidak suka, semua guru sejatinya mampu memahami dan menggunakan IT.  Keunikan sebagian besar guru saat ini adalah hasil pendidikan era 90 an, bahkan sebelumnya. Pada jaman itu belum booming alat komunikasi seperti gawai dan gadget. Sedangkan siswa yang dihadapi adalah siswa abad 21. Jaman dimana siswa bisa melakukan beberapa hal dalam satu waktu.  Era ketika siswa dapat berkomunikasi tak berbatas jarak. Saat dunia serasa selebar daun kelor. Saat guru menerangkan siswa dapat melihat apa saja di kolong bangku melalui internet.
Siswa yang sekarang disiapkan, untuk menjadi para aktor pembangunan di negeri ini kelak untuk abad 22. Jaman yang belum terbayangkan kecanggihan teknologinya. Sungguh unik tugas yang diemban para guru saat ini.

Paling tidak guru masa kini harus mau belajar IT semampunya, sedikit demi sedikit mengimbangi siswa. Terutama siswa tingkat SMP/sederajat dan SMA/SMK/sederajat. Larangan langsung tentu kuranglah efektif untuk siswa di rentang usia ini. Strategi yang mungkin guru dan sekolah lakukan adalah bagaimana caranya agar siswa menggunakan gawai, gadget, Internet untuk Pembelajaran.

Guru secara langsung terlibat dalam mengarahkan siswa ketika pembelajaran. Butuh kreatifitas, wawasan dalam menyikapi ini. Butuh sedikit pengorbanan sebelum masuk ke kelas untuk melangsungkan pembelajaran. Membaca topik yang sedang ngetren, bahasa "gaul" yang beredar, media sosial yang banyak digunakan siswa. Hal ini dilakukan untuk memantau siswa untuk mencegah penyalahgunaan dan penyimpangan berkomunikasi.

Kondisi ini dapat diambil peluang oleh guru. Perkembangan teknologi dan kecenderungan siswa dan guru berkomunikasi melalui internet dan IT. Guru dapat menggunakan banyak aplikasi dalam pembelajaran. Mulai dari yang IT yang sederhana hingga yang kompleks. Bergantung pada kemampuan guru masing-masing.

Era digital tentu tidak harus melupakan dan meninggalkan manual. Sumber pembelajaran yang bersumber dari internet  bukan satu-satunya informasi paling benar. Guru dituntut mengarahkan siswa untuj mengetahui bagaimana dan seperti apa sumber informasi yang benar di internet. Kolaborasi teknik klasik dan kekinian salah satu solusi untuk prmbelajaran.  Sumber belajar pun tidak serta merta seluruhnya bersumber dari internet.  Sumber belajar dari internet diperbolehkan berasal dari jurnal, hasil penelitian dan buku elektronik.  Apabila siswa tidak diarahkan,  memperoleh informasi bisa saja berita asal, informasi palsu. Peran guru untuk mengarahkan kepada siswa butuh pengetahuan lebih tentang apa dan bagaimana memperoleh informasi akurat melalui internet. Maka guru pun sejatinya memiliki kemampuan dan wawasan lebih mengenai perkembangan teknologi.

Penggunaan alat bantu pembelajaran,  untuk tingkat menengah atas,  guru dapat menggunakan virtual laboratorium. Walaupun belum mampu membuat animasi, setidaknya mampu mengenal dan menggunakannya.  Mengambil beberapa vidio atau animasi dari sumber internet, kemudian dipilah dan di edit saat dijadikan media pembelajaran. Walaupun tidak semua tema dalam pembelajaran selalu menggunakan media internet.

Guru kekinian yang mahir dalam teknologi informasi akan dapat menolong untuk mempersiapkan generasi abad 22. Guru kekinian sebagai hulu peradaban yang mengalirkan segala bentuk informasi untuk membekali kompetensi generasi era digital. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Endog Lini

Ayo Bernasyiah dengan Riang Gembira

Tetap Bertahan