LITERASI RELIGI DI PESANTREN RAMADHAN
Oleh : Neni Nurachman
*) Dimuat di Kabar Priangan rubrik Guru Menulis tanggal 1 Juli 2016
Selebritis
tingkat mesjid dikerubungi anak-anak usia sekolah. Setelah selsai shalat
tarawih, tadarus, dan ceramah. Mereka meminta tanda tangan sebagai bukti bahwa
mengikuti kegiatan ramadhan. Rangkuman kegiatan tertulis dalam sebuah buku.
Seusai ramadhan buku di serahkan kepada guru di sekolah masing-masing. Buku
legendaris ini tetap masih ada hingga sekarang.
Himbauan pemerintah
daerah siswa diberi kegiatan pesantren selama bulan ramadhan. Program bisa
mendatangkan ustadz ke sekolah atau siswa berangkat ke pesantren. Semua kebijakan
diserahkan kepada pihak sekolah.
Uniknya pesantren
ramadhan tahun ini tidak masuk penilaian dalam mata pelajaran pendidikan agama.
Hal ini disebabkan ramadhan bertepatan dengan ahir tahun pembelajaran. Namun
animo siswa mengikuti pesantren ramadhan tetap tinggi. Kegiatan melegenda
berbasis keinginan spiritual siswa yang telah tertanam.
Kegiatan
pesantren ramadhan, selain melakukan ibadah wajib dan menambah dengan ibadah sunat.
Semua kegiatan yang dilakukan di semua jenjang pendidikan. Ini bukanlah
mengajari perilaju ingin dilihat orang lain (riya). Maksud positif dibalik
agenda kegiatan ramadhan yang dituliskan adalah membiasakan untuk menilai diri
(muhasabah). Mengajari bersikap jujur, jujur menceklis dan menuliskan semua
kegiatan yang dilakukan.
Jika
dicermati kegiatan muslim di bulan ramadhan adalah bentuk literasi religi.
Boleh dikatakan puncak kegiatan literasibumat Islam ada pada bulan Ramadhan.
Membaca
Al-Qur'an dengan target minimal satu kali tamat selama bulan ramadhan. Siswa
dituntut membaca setidaknya satu hari satu juz. Laporan ditulis dan ditandatangani
orang tua atau guru ngaji. Ini merupakan pembiasaan gerakan literasi yang telah
diminta tahihan sebagai bukti melakukan membaca.
Mendengarkan ceramah,
merupakan kegiatan literasi dasar. Ceramah pada kultum jelang tarawih dan ceramah di
pengajian setelah subuh. Resume isi ceramah dituliskan dalam buku kegiatan
ramadhan yang dibekali dari sekolah.Tagihan menuliskan resume tentu kelanjutan
dari menyimak. Ini akan melatih kemampuan menulis siswa.
Literasi
religi di bulan ramadhan jika terus dibiasakan diluar bulan ramadhan akan sangat
baik dampaknya. Siswa akan terlatih membaca, mendengarkan dan menulis. Topik
dapat terus dilakukan bidang religi atai kombinasi ke bentuk lain.
Seiring
dengan gerakan literasi sekolah yang terus digalakan. Literasi religi di pesantren
ramadhan bisa dilanjutkan, bahkan lebih dari sekedar 15 menit membaca. Pembiasaan
di beberapa sekolah swasta (Islam) adalah membaca Al-Qur'an diawal jam
pelajaran setelah berdo'a bersama. Ini bisa ditingkatkan, setelah membaca lafal
bahada arab di Al-Qur'an dapat juga dilanjut dengan membaca arti dari ayat-ayat
yang telah dibaca.
Lebih
meningkat lagi dengan kajian tafsir atau kajian kitab lain yang ditulis oleh
ilmuwan terdahulu. Tentunya untuk kegiatan ini dengan bimbingan pakar yang mumpuni.
Agar tidak terjadi bias pemahaman pda siswa.
Menghafal
Al-Qur'an banyak juga dilakukan masif di bulan ramadhan. Langkah untuk bisa
mengahafal merupakan serangkaian bentuk literasi dasar. Bahkan untuk menghafal
kata dalam bahasa asing (arab) tentunya dengan melihat terjemah dalam bahasa
Indonesia. Membaca berulang, mendengar berulang, melafalkan berulang, tentu
dengan memahami terjemahnya. Ini literasi dasar yang sudah meningkat.
Kegiatan
pesantren ramadhan dapat dijadikan ajang memulai gerakan literasi. Sekolah dan
keluarga dapat melanjutkan di bulan-bulan lain. Dapat dibayangkan jika literasi
di bulan lain sama tingginya dengan di bulan ramadhan.
Meningkatnya
kemampuan literasi siswa walau secara perlahan. Ini akan menaikan peringkat
kemampuan literasi negeri ini. Beberapa level dari sekarang. Meskipun peringkat
bukan tujuan sesungguhnya. Negeri yang literat akan dengan sendirinya menjadi
maju dan unggul dari bangsa lain.
Komentar
Posting Komentar