Postingan

FILOSOFI DAUN KERING

Gambar
FILOSISOFI DAUN KERING OLEH: Neni Nurachman & Rita Fatimah Sumber foto: Koleksi Pribadi Ali Elkinchi Tinggalah daun yang jatuh, Terhempas, mengering lalu hilang tanpa ada yang melihat. Ada, aku melihatnya. Angin membawa daun itu pergi. Takut daun itu makin merana atas persetruan dua orang yang dia saksikan. Biarlah angin menghempasnya di atas genangan air. Agar daun itu mampu memberi nutrisi bagi pohon lainnya, Sekalipun rumput liar. Kadang demi kesetimbangan alam sang daun memang harus hancur Demi memupuk pohon yang menjulang tinggi Demi menyejukan bumi Demi menyuburkan tanah tempat berpijak setiap makhluk Ia jatuh terhempas dan hancur Sungguh, dia bahagia. Setidaknya ada oksigen yang menyejukkan Berguguranlah wahai daun Jasamu menahan ego Kau tak lena dalam ranum klorofilmu Ragamu kau korbankan demi mahluk lain Sungguh Celaka jika kau dibakar Takkan hadir nutrisi Takkan tumbuh daun lain Teriaklah engkau Bahwa tak mau mencicip panasnya ...

Emak v.s Emak

Gambar
Oleh: Neni Nurachman "Waduh! Pak, hati-hati!" Temanku memekik. Tak lama berdecit suara rem diinjak mendadak. Pak sopir taxi geleng-geleng kepala. Dia lap keringat di kening. "Udah lampu sen ke kiri belok ke kanan. Itu anakknya tidur gak ditali pula!" Aku mengomel. "Ibu-ibu aja jengkel ya liat temen begitu, ya Mbak?" Pak sopir menyeringai. Terlihat emak pengendara motor tadi melaju makin cepat. Seorang anak dibonceng. Kepala anak itu bergerak perlahan miring ke kanan. Makin kekanan. "Ih, menepi dulu kenapa?" Temanku berpekik. "Itu anaknya tertidur gitu. Ditali kek, berhenti dulu kek, kasian kalau dia terjatuh. Nggak takut kesenggol kendaraan lain ya?" Omelanku bervolume tinggi. Semua mata seisi taxi memperhatikan emak bermotor itu. Pak sopir mesam-mesem mendengar kami yang terus berisik. "Tapi bisa ya tuh anak dibonceng, tertidur tapi pegangan kuat." Temanku makin tajam memperhatikan. CITTTT. Lagi-lagi rem mendadak. ...

Me and My Student

Gambar
Oleh: Neni Nurachman Senin lalu, di sekolah ceremonial peringatan hari santri nasional. Secara sekolahanku berbasis pesantren. Hingar bingar syiar Islam. Ajang lomba antar kelas digelar. Kelas yang nggak ikutan mata lomba didenda. Ini sih biar semua partisipasi. Lah panitianya juga osis dan para santri. Semua siswa dan guru, juga staf menggunakan pakaian santri. Semua sarungan, peci hitam tentu, juga sandal. Ya, hanya di hari itu boleh sandalan seharian di sekolah. Saat rehat, aku dan siswa kelas XII IPA 1, berpose untuk mengabadikan moment. Tetep narsis dan eksis untuk dokumentasi kenangan. Semula depan perpustakaan, tapi cahaya kurang sip. Ahirnya pindah ke taman sekolah. Menuju taman meatinberjalan beberapa meter ke pintu teras. Tembok pembatas sekitar 60 cm menghalangi. Reflek atau kebiasaan, aku melangkahi tembok. Sarung ditarik. Tak masalah, training panjang masih menutup betis. Terdengar tawa tertahan dari semua murid. Sebagian mereka mengikuti caraku lompat tembok. ...

BEDA ITU INDAH JIKA ...

Gambar
Oleh: Neni Nurachman Alloh SWT. menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Agar kita saling mengenal satu sama lain. Kita bisa melihat di dekat kita. Sangat sekat. Kita tahu, di negeri Indonesia ini banyak suku bangsa. Tentu setiap suku memiliki budaya masing-masing. Satu diantaranya ya cara berbahasa. Cara berkomunikasi. Jangankan antar suku, sesama suku saja banyak perbedaan. Misalnya, suku sunda. Orang Tasik dan orang Cianjur, misalnya, ada banyak perbedaan. Perbedaan akan membawa harmony indah, jika saat bertemu saling memahami, saling 'tepo seliro'. Mengetahui bagaimana cara bertutur atau gestur satu sama lain. Keduanya berperan. Tidak satu pihak saja yang memahami. Mestilah keduanya. Jadi teringat, ketika pekan pertama ada di kos-kosan. Kota Yogyakarta waktu itu. Aku kaget dan 'paciweuh' bertanya ke penghuni lain. "Ada apa?kenapa ada yang berantem di halaman dibiarkan? Bisa manggil atau lapor ke Ibu kos?" Teman-teman sekos malah tertaw...

Seandainya

Gambar
Seandainya... Andai mendidik itu kita ibaratkan sedang bercermin. Bayangan yang muncul adalah diri kita sendiri. Keadaan murid itu, ya pantulan dari diri kita, yang katanya sebagai guru...😁 Ketika ada 'cemong'  pada bayangan diri di dalam cermin, tentu kita mematut diri.  Membersihkan diri, hingga bayangan terlihat bersih. Nah, bayangan itu siswa kan? Cerminnya adalah pola kita mendidik. Ketika bercermin, jilbab kita atau peci kita miring, tentu tidak memecahkan cermin kan ya...😁 Atau tentu kita tidak membuang jilbab/pecinya...😂 Kita membenahi diri, hingga pada cermin, peci dan kerudung rapi. Lagi-lagi kita hanya butuh waktu, dan kesabaran untuk mematutkan hasil bercermin...😊 Mendidik memang pelik...😥 Sering kita menganggap siswa harus berfikir seperti pikiran kita..(😁 itu mah mungkin hanya saya...) padahal kita tahu, ada keunikan dalam pikir manusia, siswa juga ya manusia..😁 Kalau kat...

Aku, Kau dan Rintik Hujan

Gambar
Aku, Kau dan Rintik Hujan Tahukah kau tentang rindu? Batas antara hasrat dan asa Terkadang datang seperti hembusan angin Sering seperti rintik hujan Datang, berlalu Karena terik menerpa Sesekali seperti burai hujan nan deras Hampir seperti bah yang tak terserap pori bumi Mengalir seperti kuat arus listrik, Menyengat jika tak terisolasi Menuai rasa dengan segala daya Itukah rindu kau untukku? Neni Nurachman Rawa, 25 Agustus 2017 21.05 WIB

Senandung Luka

Senandung Luka Oleh: Neni Nurachman Tegak Di antara gemulai daun padi Angin yang berlalu pergi Membawa luka hati Senandung lirih Berbaur lenguh kerbau Gerombolan pipit bertengger tak terhalau Jingga telah bersemburat Rona bahagia semesta Meski petani lara Gabah tak jua terbawa Tasikmalaya, 22082017